EDSI ILMU AL-QUR’AN DAN PENERAPANNYA

PERBEDAAN QIRA’AT SERTA PENGARUHNYA
TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN DAN ISTINBAT HUKUM
(Studi Terhadap Tafsir Jami’ al-Bayan Karya ath-Thabari)

A. Pendahuluan
Al-Qur’an, merupakan sumber ajaran islam yang pertama, hal ini telah diakui oleh seluruh umat muslim. Al-Qur’an berisi berbagai petunjuk untuk kemaslahatan umat manusia. Akan tetapi dalam penafsiran istimbat hukum para ulama berbeda pendapat, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, yang di anataranya qira’ah. Dari berbedaan cara baca al-Qur’an (qira’ah) menjadi salah satu unsur yang menyebabkan perbedaan hukum islam.
Qira’ah di dalam al-Qur’an ada beberapa macam, yang didasarkan pada imamnya masing-masing. Dari keberagaman imam itu membawa cara baca al-Qur’an yang bebeda. Menurut para ulama, muncul sejumlah istilah popular yang menisbatkan pada jumlah qira’ah, misalnya qira’ah sab’ah, qira’ah al-‘asyr dan qira’ah al-‘arba’ ‘asyrah. Yang paling popular dan paling mendapatkan perhatian secara luas adalah qira’ah sab’ah. Yaitu qira’ah yang dinisbatkan kepada tujuh imam terkemuka, yakni Nafi’ , Ashim , Hamzah , Ibn ‘Amir , Ibn Kasir ,Abu ‘Amir , dan Kisa’i.
Adapun yang dimaksud qira’ah ‘asyar adalah qira’ah yang dinisbatkan kepada imam tujuh dan ditambahkan dengan tiga imam, yaitu Abu Ja’far , Ya’qub dan Khalaf . Sedangkan qira’ah arba’ ‘asyar dengan penisbatan kepada sepuluh imam qira’ah yang tersebut dan ditambahkan dengan empat imam qira’ah yang lain, di antaranya, Hasan al-Bashri , Ibn Muhaishin , Yahya al-Yazidi dan Syanbudi.
Sebagaimana telah sedikit disinggung di atas bahwa, dari macam-macam qira’ah, bisa menjadikan lahirnya keberagaman hukum islam. Perbedaan qira’at al-quran yang berkaitan dengan substasi lafaz atau kalimat, adakalanya mempengaruhi makna dari lafaz atau kalimat tersebut, dan adakalanya tidak. Dengan demikian , perbedaan qira’at al-quran dalam hal ini, adakanya berpengaruh terhadap istinbath hukum, dan adakalanya tidak. Jadi qira’ah memiliki pengaruh besar dalam pembentukan hukum islam.

B. Sejarah Ilmu Qira’ah
Pada masa hidup Nabi Muhammad saw, perhatian umat terhadap kitab al-Qur’an ialah memperoleh ayat-ayat al-Qur’an itu, dengan mendengarkan, membaca, dan menghafalkannya secara lisan dari mulut ke mulut. Dari Nabi saw. kepada para sahabat, dari sahabat yang satu kepada sahabat yang lain, dan dari seorang imam ahli bacaan yang satu kepada imam yang lain.
Pada periode pertama ini, al-Qur’an belum dibukukan, sehingga dasar pembacaan dan pelajarannya adalah masih secara lisan (tanpa tulisan). Pedomannya adalah Nabi dan para sahabat serta orang-orang yang hafal al-Qur’an. Hal ini berlangsung terus sampai pada masa sahabat, masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Pada mada masa ini al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf. Pembukuan al-Qur’an tersebut merupakan ikhtiar khalifah Abu Bakar atas inisiatif ‘Umar bin Khatab.
Pada masa pemerintahan Khalifah Usman mushhaf al-Qur’an itu disalin dan dibuat banyak, serta dikirim ke daerah-daerah islam yang pada waktu itu sudah menyebar luas guna menjadi pedoman bacaan pelajaran dan hafalan al-Qur’an. Hal ini diupayakan oleh Khalifah Usman, karena pada waktu iti ada perselisihan sesama kaum muslimin di daerah Azzerbeijan mengenai bacaan al-Qur’an. Perelisihan tersebut hampir saja menimbulkan perang saudara sesama muslim, sebab mereka berlainan dalam menerima bacaan ayat-ayat al-Qur’an dari Nabi saw, karena Nabi saw. mengajarkan sesui dengan dialek mereka masing-masing. Tetapai karena tidak memahami maksud tujuan Nabi saw. yang begitu tadi, lalu tiap-tiap suku (golongan)menganggap hanya bacaan mereka sendiri yang benar, sedang bacaan yang lain salah, sehingga mengakibatkan perselisiahan.
Inilah pangkal perbedaan qira’ah dan tonggak sejarah tumbuhnya ilmu qira’ah. Untuk memadamkan perselisihan itu, Khalifah Usman mengadakan penyalinan mushhaf al-Qur’an dan mengirimkannya ke berbagai daerah, sehingga bisa mempersatukan kembali perpecahan umat islam. Tentunya bacaan al-Qur’an di daerah-daerah tersebut mengacu pada mushhaf yang dikirim oleh khalifah Usman tadi. Mushhaf-mushhaf yang dikirim oleh Khalifah Usman seluruhnya sama, karena semuanya berasal dari beliau.
Sesudah itu anyak bermunculan para Qari’ yang ahli dalam berbagai cara dalam membaca al-Qur’an. Mereka menjadi panutan di daerahnya masing-masing dan menjadi pedoman bacaan, dan cara-cara membaca al-Qur’an. Di samping itu tersiar juga bacaan yang bermacam-macam. Cara bacaan yang beranekaragam itu ada yang diterima, karena memenuhi persyaratan, dan ada juga yang ditolak sebab tidak memenuhi persyaratan. Kemudian, keragaman cara baca (qira’ah) dikenal oleh umat islam dengan nama qira’ah sab’ah, qira’ah ‘asyarh dan qira’ah ‘arba’ ‘asyarh.

C. Perjalanan Hidup Ath-Thabari dan Nuansa Intelektualnya
Ath-Thabari adalah salah seorang intelektual islam yang aktif diberbagai disiplin ilmu, pemikiran dan tafsirnya mampu mewarnai berbagai karya tafsir para mufasir setelah beliau. Metode dan corak tafsirnya sangat unik dan menarik untuk dikaji dan diteliti oleh para intelektual islam, baik dari segi riwayat, qira’ah, dan kedudukan i’rab yang beliau munculkan sebagai salah satu bentuk sumbangan yang sangat berharga bagi seluruh sarjana islam.
Ath-Thabari, adalah merupakan salah satu tempat di wilayah ‘Amul tempat kelahiran beliau, daerah yang masuk pada wilayah propinsi Tabaristan. Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabari. Seputar tahun tahun lahirnya beliau, para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan tahun kelahirannya, di antara tahun kelahirannya beliau yang dimunculkan oleh para sejarawan yaitu, tahun 224 H / 838 M dan 225 H / 839 M. Beliau berdomisili di Bagdad hingga ajal menjemputnya, yang bertepatan pada tahun 310 H / 923 M.
Sewaktu di Bairut beliau membaca al-Qur’an dihadapan al-‘Abbas bin Yazid, dikala di Mesir pada Yunus bin ‘Abd al-A’la dan lainnya. Dan beliau juga berguru pada Muhammad bin ‘Abd al-Muluk, Ishaq bin Abi Isma’il, Isma’il bin Musa al-Fazari, Hannad bin as-Sarri at-Tamimi, Abi Hammam al-Walid bin Syaja’ as-Sukuni, Abi Kuraib Muhammad bin a’-‘Ala, Hamdani, Abi Sa’id ‘Abd Allah bin Sa’id al-Asyja’, Ahmad bin Mani’ al-Baghawi, Ya’qub bin Ibrahim ad-Dauraqi, ‘Ammar bin ‘Ali al-Falas, Muhammad bin Basyar Bundar, Abi Musa Muhammad bin Musanna, ‘Abd al-A’la bin Washal, Sulaiman bin ‘Abd al-Jabar, al-Hasan bin Qaj’ah, az-Zubair bin Bakar dan lain sebagainya. Di antaranya dari ‘Iraq, Syam dan Mesir.
Kitabnya tentang tafsir, yaitu Jami’ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an merupakan tafsir paling besar dan utama serta menjadi rujukan penting bagi para mufasir bil ma’sur. Ibnu Jarir memaparkan tafsir dengan menyandarkan kepada sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. ia juga mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjihkan sebagaian atas lain. Para ulama berkompeten sependapat bahwa belum pernah disusun sebuah kitab tafsir yang dapat menyamainya.
Hal lain yang penting ialah sifat terpuji dalam kehidupannya, di mana sebelum ia memulai menulis tafsir, ia melakukan shalat istikharah selama tiga tahun untuk memohon hidayah Allah.
Secara garis besar, bahwa ath-Thabari adalah seorang intelektual Islam yang aktif di berbagai disiplin ilmu. Di antara karya beliaua adalah :

1. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an
2. Tarikh al-Umam wa al-Muluk wa Akhbaruhum
3. Al-‘Adabul Hamdiyah wa al-Akhlaqun Nafisah
4. Tarikh ar-Rijal
5. Ikhtilaf al-Fuqaha’
6. Tahdhib al-Asar
7. Kitab al-Basit fi al-Fiqh
8. Al-Jami’ fi al-Qira’at
9. Kitab at-Tabsir fi al-Ushul.

C. Qira’at Serta Pengaruhnya Terhadap Penafsiran dan Istinbath Hukum dalam Jami’ al-Bayan ath-Thabari

a. Firman Allah :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنّ حَتّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهّرْنَ فَأْتُوهُنّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنّ اللّهَ يُحِبّ التّوّابِينَ وَيُحِبّ الْمُتَطَّرِينَ

Artinya:”Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘’Haid itu adalah suatu kotoran Oleh sebab itu . hendaklah kamu menjahkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” ( Qs al-Baqara:222 ).

Ayat tersebut di atas merupakan larangan bagi seorang suami, dari melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang dalam keadaan haid. Sehubungan dengan ini, para ulama telah sepakat tentang haramnya (seorang suami) melakukan hubungan seksual (bersenggama) dengan istrinya yang sedang menjalani haid. Sama halnya dengan kesepakatan mereka, tentang bolehnya melakukan istimta’ (bercumbu) bagi seorang suami dengan isterinya yang sedang mengalami menstruasi (haid).
Adapun batas larangan yang disebutkan dalam ayat tersebut yaitu, sampai mereka (para isteri yang sedang mengalami haid) itu, dalam keadaan suci kembali.
Sementara itu, ( dalam qira’at sab’at ) Hamzah, al-kisa’i, dan ‘ashim riwayat syu’bah, membaca kata Yathurna dengan Yattahharna. Sedangkan Ibn kasir, Nafi’, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amr, dan ‘Ashim riwayat Hafsh, membaca Yathurna.
Berdasarkan qira’at Yathurna sebagian ulama menafsirkan ayat wa laa taqrabuuhunna hatta yathurna dengan, janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sampai mereka suci atau berhenti dari ke luarnya darah haid mereka.
Masing-masing Pendapat ini didukung oleh sejumlah riwayat dan hadis, didalam sejumlah kitab Tafsir. Sebagaimana at-Thabari sebutkan dalam tafsirnya, “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar, dari Ibnu Mahdi dan Mu’mal, dari Sufyan, Ibnu Abi Najikh, dari Mujahid, makana firman Allah Yathurna adalah hanya sebatas berhentinya darah haid.
Sedangkan qira’at Yattahharna menunjukkan, bahwa yang dimaksud dengan ayat, wa laa taqrabuuhunna hatta yattahharna yaitu, janganlah kamu bersengama dengan mereka, sampai mereka bersuci. Dan ini merupakan pendapat yang at-Thabari pilih dalam hal persoalan ini.
Berkaitan dengan yang demikian itu, para ulama berbeda pendapat tentang pengertian at-tahhuru, sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah. Sebagian dari mereka berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah wudhu. Sebagian lagi mengatakan, bahwa yang dimaksud at-tahhuru adalah mencuci atau membersihkan farj (kemaluan) tempat keluarnya darah haid tersebut.
Sehubungan dengan ini, Imam malik, Imam syafi’i, al-Awza’i dan al-sawri berpendapat, bahwa seorang suami haram hukumnya, bersetubuh dengan isterinya yang sedang dalam keadaan haid, sampai ia (isterinya) berhenti dari haid, dan mandi karena darah haidnya.
Dalam hal ini, Imam Syafi’i mengemukakan argumentansi sebagai berikut :
1) Bahwa qira’at mutawatirah (dalam hal ini qira’at sab’at) adalah dapat dijadikan hujjat secara ijma’. Oleh karena itu, apabila ada dua versi qira’at mutawatirah Yathurna dan yattahharna dan keduanya dapat digabungkan dari segi kandungan hukumnya, maka kita wajib menggabungkannya. Qira’at yathurna mengandung arti, sampai mereka suci atau berhenti dari darah haid mereka, sementara qira’at Yattahharna mengandung arti, sampai mereka bersuci dengan air (mandi). Kedua ketentuan hukum dalam kedua qira’at tersebut, dapat digabungkan, yaitu sampai terpenuhinya kedua ketentuan hukum tersebut.
2) Firman Allah faidza tatahharna fa’tuuhunna dalam rangkaian ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang suami dibolehkan bersetubuh dengan isterinya yang telah menjalani haid, apabila telah memenuhi persyaratan yaitu, bersuci dengan mandi.
Selanjutnya, al-Qasimi menyatakan sebagai berikut. Qira’at yattahharna menunjukkan secara jelas, bahwa batas diharamkannya seorang suami menyetubuhi isterinya yang sedang haid adalah, sampai ia (isterinya) mandi karena darah haidnya. Sementara qira’at yathurna meskipun menunjukkan, bahwa batas keharaman tersebut adalah sampai berhentinya darah haid, akan tetapi kalau dikaitkan dengan rangkaian selanjutnya dalam ayat tersebut, yaitu faida tatahharna yang maknanya, sampai mereka bersuci dengan cara mandi, maka jadilah kedua ketentuan hukum tersebut (berhenti dari darah haid dan bersuci dengan cara mandi) menjadi batas keharaman dalam kasus dimaksud oleh ayat.
Dalam pada itu, Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan wa laa taqrabuuhunna hatta yathurna dalam ayat tersebut yaitu, janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sampai mereka suci, dalam arti telah berhenti dari darah haid mereka. Dengan demikian , para suami dibolehkan bersetubuh dengan isteri mereka, setelah darah haid mereka berhenti.

b. Surat al-Maidah ayat 6.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(6)

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. ”(QS. Al-Maidah : 6)

Ayat di atas menjelaskan, bahwa seseorang yang mau melaksanakan shalat jika dalam keaadaan berhadas, diwajibkan untuk berwudu. Adapun caranya yaitu, di mulai dengan mencuci muka, kemudian mencuci dua tangan sampai siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki sampai dua mata kaki.
Sementara itu, para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, karena adanya dua versi qira’at menyangkut hal ini. Ibn kasir hamzah, dan Abu ‘Amr membaca :wa arjulikum. Nafi’, Ibn ‘Amir, dan al-Kisa’i, membaca wa arjulakum. Sementara ‘Ashim riwayat Syu’bah, membaca wa arjulikum, sedangkan ‘ashim riwayat Hafsh, membaca wa arjulakum.
Qira’at wa arjulakum menurut maknanya menunjukkan, bahwa kedua kaki ( dalam berwudu ) wajib dicuci, yang dalam hal ini ma’thuf kepada faghsiluu wujuuhakum. Sementara qiraat wa arjulikum menurut maknanya menunjukkan, bahwa kedua kaki(dalam berwudu) hanya wajib diusap dengan air, yang dalam hal ini ma’thuf kepada wamsahuu biru’uusikum.
Jumhur ulama cenderung memilih qira’at wa arjulakum. Dengan demikian, mereka berpendapat, bahwa dalam berwudu kedua kaki wajib dicuci, dan tidak cukup diusap dengan air.
Di dalam Tafsir at-Thabari diterangkan bahwa, Ahli hura’ berbeda pendapat tentang bacaan arjulakum, membaca arjulakum dengan harkat fathah karena ‘athaf pada aidiyakum dengan makna membasuh kedua kaki. Adapun bacaan dengan menkasrah pada kalimat arjulikum dengan alasan ‘athaf pada biru’usikum, yang mengandung makna hanya mengusap dengan tanpa membasuhnya.
Dalam ayat tersebut Allah SWT membatasi kaki sampai dengan mata kaki, sebagaimana halnya membatasi tangan sampai dengan siku. Hal ini menunjukkan bahwa dalam berwudu, kedua kaki wajib dicuci sebagaimana diwajibkannya mencuci kedua tangan.
Para ulama dalam menentukan makna arjulikum atau arjulakum, tidak mencukupkan dengan hanya dengan pendekatan bahasa, akan tetapi juga didukung oleh beberapa hadis dan riwayat yang berkaitan atau yang berhubungan dengan hukum makna arjulikum atau arjulakum. Sebagaimana yang dikutib oleh berbagai mufasir dalam menentukan makna-makna yang berkaitan dengan ahkam al-Qur’an.
Selanjutnya, at-Thabari menguraikan di dalam tafsirnya perihal memberikan makna arjulakum yang berarti membasuh didukung oleh beberapa riwayat dan hadis :
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Ibnu Waqi’, dari Ibnu Irdis, ia berkata “Aku telah memdengar Abi, dari Hammad, dari Ibrahim, beerkaitan dengan makna firman Allah, “فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ“, bermakna seruan supaya membasuh. Ungkapan seperti ini tidak hanya satu, akan tetapi diungkapkan oleh at-Thabari dengan sangat banyak dari berbagai jalur sanad.
Kemudian ada beberapa hadis menurut para ulama hadis yang berstandar sahih mendukung makna membasuh kaki di dalam berwudhu :”Sempurnakanlah wudhu kalian, celakalah bagi tumit yang tidak dibasuh karena akan dibakar oleh neraka”.
Kemudian di dalam mendukung makna mengusap, juga didukung oleh beberapa riwayat dan hadis.”Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dari Jabir, dari Isma’il, makna arjulikum adalah mengusap”.
Dari uraian di atas tampak dengan jelas, bahwa perbedaan qira’at dalam hal ini, dapat menimbulkan perbedaan istinbath hukum, baik dalam cara istinbath maupun ketentuan hukum yang diistimbathkan.
Qira’at wa arjulakum dipahami oleh jumhur ulama dengan menghasilkan ketentuan hukum, bahwa dalam berwudu diwajibkan mencuci kedua kaki. Sementara qira’at versi lainnya wa arjulikum dipahami oleh sebagian ulama dengan menghasilkan ketentuan hukum, bahwa dalam berwudu tidak diwajibkan mencuci kedua kaki, akan tetapi hanya diwajibkan mengusapnya (dengan air).
Dalam hal ini ath-Thabari berpendapat, bahwa apabila seseorang berwudhu dengan tanpa harus membasuh kaki dalam berwudhu, cukup hanya dengan mengusapnya. Intinya menurut ath-Thabari membasuh kaki dengan air hanya dihukumi sunah saja tidak wajib.

c. Surat al-Maidah Ayat 89
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(89)
Artinya : “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)” (Al-Maidah 89).

Ahli qurra’ berbeda pendapat tentang bacaan ‘aqqattumul aimaan, kalau dibaca dengan mentasdid qaf bermakna kamu meminta sumpah dan menolaknya. Selanjutnya dita’wilkan dengan “Wahai orang-orang mu’min Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja pada hati kalian.
Adapun bacaan aaqattumul aiman dengan tanpa tasdid qaf, bermakna kalian memotong (menyalahi) sumpah itu padahal hati kalian bersungguh-sungguh dalam bersumpah. Ibnu Jarir dalam hal ini memilih bentuk qiraa’h yang mentakhfif qaf (aqattumul aiman).
Bacaan dengan mentasdid qaf merupakan kalimat yang berwazan fa’’ala, adapun bacaan dengan tanpa tasdid pada qaf akan tetapi dengan memanjangkan ‘ainnya merupakan bentuk kalimat berwazan faa’ala.
Dari berbedaan qira’ah ini menyebabkan perbedaan faham dan lahirnya hukum yang beragam. Orang yang membaca dengan mentasdid Qaf tersebut bermakna kesungguhan atau kesenggajaan, sebagaimana riwayat dari mujahid bahwa makna ‘aqqattum adalah kesenggajaan.
Selanjutnya ada riwayat dari al-Hasan, Sya’bi, dan Abi Malik makna ‘aqqattum adalah suatu hal yang disenggaja atau ditekadkan dan wajib atasnya membayar kifarat. Yang selanjutnya dita’wilkan oleh Ibnu Jarir yaitu kafaratnya dengan memberikan makan kepada sepuluh fakir miskin.
Kewajiban membayar kifarat (denda) alternativ yang ditawarkan oleh ayat tersebut berupa memberikan makan kepada fakir miskin atau dengan menjalankan puasa tiga hari.

ANALISIS DAN KESIMPULAN
Dari berbagai permasalahan yang muncul dari sebuah sebab berbedaan qira’ah yang tersebut di atas menunjukkan keunukan dan yang luar biasa dari ayat-ayat al-Qur’an.
Secara garis besar permasalahan-permasalah yang muncul dari al-Qur’an justru melahirkan pemikiran baru yang lebih dinamis dan fleksibel, dan lebih berguna bagi umat manusia khususnya umat islam dalam kondisi-kondisi tertentu. Sehingga dalam menjalankan syariat hokum islam lebih mudah untuk dilaksanakan oleh jajaran masyarakat islam, tidak terikat oleh suatu faham-faham ataupun kemandulan dalam system ajaran.
Perbedaan-perbedaan itu tidak selayaknya dijadikan salah satu alasan terjadinya perpecah-belahan umat islam, akan tetapi justru supaya menjadi salah satu bentuk kemudahan umat islam dalam menjalankan syariat islam.
Setiap faham yang muncul dari sebab adanya keragaman qira’ah, yang selanjutnya melahirkan embrio hukum tersebut pada dasarnya dilandasi dengan sumber-sumber yang akurat dan terpercaya. Oleh karena itu sudak selayaknya kita mengakhiri tragedi terpecah-belahnya umat, dengan cara mengaplikasikan hukum islam secara praktis dan dinamis serta disesuikan dengan situasi dan kandisi yang berlangsung pada saat itu.
Selanjutnya, apabila melihat terhadap perbedaan yang terjadi pada kasus hukum tentang hubungan seks pada wanita yang berhenti haid. Apakah wanita tersebut harus bersuci dengan cara mandi, ataukah hanya sebatas berhentinya darah haid.
Kedua hukum tersebut pada satu sisi bisa akan berguna, pada sisi lain kurang begitu berguna, tergantung dari sudut apa kita melihat.
Contoh kasus misalkan, ada seorang pria yang libido (hawa seksnya berlebihan), setelah melihat istrinya sudah berhenti haid akan lebih berguna dalam berhubungan seks tidak harus menunggu sampai istri bersuci secara total (mandi), sebab apabila seorang pria yang sudah masuk hawa seksnya tidak akan bisa menahan diri. Pada sisi lain seorang pria yang nafsunya timbul dan tidak langsung disalurkan bisa menyebabkan efek negativ pada dirinya dan orang lain.
Sebaliknya, bagi kaum pria yang hawa seksnya tidak bergejolak, alangkah baiknya jika sang istri bersuci secara tatal (mandi) sebelum melakukan hubungan seks. Karena hal itu lebih baik, sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya Allah lebih menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.
Kemudian, kasus selanjutnya tentang hukum membasuh atau mengusap kaki setiap berwudhu. Bila dikaji dari segi ekonomi mungkin lebih efektif hanya diusap saja tidak harus dibasuh, karena hal itu lebih menguntungkan sebab tidak pemborosan air.
Akan tetapi jika melihat pada aspek situasi dan kondisi tertentu, masing-masing faham tersebut akan berfaedah. Contohnya seperti terjadi kemarau panjang dan kesulitan mencari air untuk kebutuhan sehari-hari, mungkin lebih baik apabila memilih faham yang hanya mengusap kaki. Sebaliknya, pada musim penghujan dan gambang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari alangkah lebih baik jika memilih faham yang membasuh kaki, karena hal itu akan lebih berguna yaitu untuk menjaga kesehatan. Sebab pada musim hujan kaki cenderung kurang bersih, dan gambang terserang kuman (firus) apabila tidak bersih.
Kemudian, pada kasus yang lain tentang orang yang melanggar sumpah, apakah berpuasa atau memberikan santunan terhadap fakir miskin.
Jika melihat dari sisi ekonomi dan sosial di masyarakat, apabila seseorang melanggar sumpah dan dikenakan kafarat, sebaiknya melihat kondisi masyarakat sekelilingnya.
Bilamana masyarakat disekitar kita masih banyak yang miskin, alangkah baiknya denda kafarat tersebut berupa santuan terhadap fakir miskin. Mungkin hal tersebut akan lebih bermanfaat bagi umat manusia.
Akan tetapi, jika lingkungan masyarakat sekitar dalam taraf ekonomi yang kecukupan, alangkah lebih mulya apabila kafarat tersebut dibayar dengan berpuasa.
Setelah melihat berbagai keragaman faham yang disebabkan oleh berbedaan qira’ah yang selanjutnya melahirkan hukum yang berlainan anatara satu dan lainnya. Ath-Thabari dalam memberikan komentar dan pilihan pada qira’ah-qira’ah, di dasari beberapa hal yang di antaranya :
1. Melihat kedudukan kalimat baik dari segi nahwu dan sharaf, yang selanjutnya dimaknai dengan menggunakan pendekatan bahasa, berikutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan ta’wil secara lughawiyyah
2. Melihat dari segi riwayat-riwayat yang sangat beragam di dalam tafsirnya, yang selanjutnya mentarjih riwayat-riwayat tersebut.

Selanjutnya, jika melihat tafsirnya dalam hal fiqh ath-Thabari tidak terkontaminasi dengan madzhab-madzhab tertentu atau membela salah satu madzhab tertentu, sebagaimana yang terjadi pada mufasir-mufasir sesudahnya. Justru ath-Thabari mencetuskan madhzhab fiqh yang mandiri, yang menggunakan pendekatan bahasa, ta’wil dan riwayah.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Qur’an al-Karim

Abu al-Faraj dan Khalid bin Muhammad, Taqrib al-Ma’ani fi Sarh hirz al-amani fi al-Qira’at as-Sab’, Saudi : Dar az-Zaman, 2003, cet ke-5

Adh-Dhahabi, Muhammad, Tafsir wa al-Mufassirun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), Jilid 1

Al-Qartubi, Abi Muhammad Makki al-Qaisi al-Qairawani, Kitab at-Tabshirah fi al-Qira’at as-Sab’, (Badnad: Dar as-Shahabah, tth.), t.cet

Al-Qatan, Manna’, Mabahis fi Ulum al-Qur’an, (tt.,: tpn., tth.), cet. ke-3

Al-Qurtubi, Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad al-Anshari, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, (Bairut : Dar al-Fikr, 1998), t.cet.

Al-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir, Damaskus : Dar al-Fikr, 1991, cet ke-1

Ash-Shabuni, Muhammad, at-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: ‘Alim al-Kutub, 1985), cet. ke-1

At-Thabari, Ibnu Jarir, Jami’ al-Bayan, (Bairut : Dar al-Fikr, 2001), t.cet.

Az-Zarqani, Muhammad Abdu al-‘Adhim, Manahilu al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: Dar al-Fikr, 1988), t. cet

Djalal, HA Abdul., Ulummul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2000), cet. ke-2

Hasanuddin, AF, Perbedaan Qira’ah dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Raja Grafindo, 1995), cet. ke- 1

Ibnu Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘adzim, Kairo : Dar al-Hadis, 2002, t.cet.

Ibnu Mujahid, , Kitab as-Sab’at fi al-Qira’at, Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th., t.cet.

Muhammad, al-Hafidz Abi al-Khair bin Muhammad, an-Nasy fi al-Qira’at al-‘Asyar, Mesir : ttp., tth., t.cet.

Ar-Razi, Mafatih al-Gaib, (Bairut : Dar al-Fikr, 1990), t.cet.

Shamsuddin bin Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad ad-Dawuri, Thabaqat al-Mufassirin, (Bairut: Dar al-Kutub ‘Alamiyyah, tth.), Jilid 2

Thameem Ushama, Methodologies of the Qur’anic Exegesis (tarjamah) (Jakarta: Radar Jaya, 2000), cet. ke-1

Zakiyah Darajat, Kesehatan Mental, (Jakarta : CV Haji Masagung, 1990), cet. ke-6

_______ , Ilmu Jiwa dan Agama, (Jakarta : Bulan Bintan, 1993), cet. ke-14

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s