ENSIMINASI BUATAN PADA HEWAN DAN MANUSIA

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

 

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

 

 

A.  Latar Belakang Masalah

Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuktidak boleh berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam menggapai karunia Allah SWT. Demikian halnya di ntara pancamaslahat yang diayomi oleh maqashid asy-syari’ah (tujuan filosofis syariah Islam) adalah hifdz an-nasl (memelihara fungsi dan kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi umat manusia.

Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi (QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk kesulitan reproduksi manusia dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dengan menggunakannya sesuai kaedah ajaran-Nya.

Teknologi bayi tabung dan inseminasi buatan merupakan hasil terapan sains modern yang pada prinsipnya bersifat netral sebagai bentuk kemajuan ilmu kedokteran dan biologi.  Sehingga meskipun memiliki daya guna tinggi, namun juga sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan kesalahan etika bila dilakukan oleh orang yang tidak beragama, beriman dan beretika sehingga sangat potensial berdampak negatif dan fatal. Oleh karena itu kaedah dan ketentuan syariah merupakan pemandu etika dalam penggunaan teknologi ini sebab penggunaan dan penerapan teknologi belum tentu sesuai menurut agama, etika dan hukum yang berlaku di masyarakat.

Seorang pakar kesehatan New Age dan pemimpin redaksi jurnal Integratif Medicine, Dr. Andrew Weil sangat meresahkan dan mengkhawatirkan penggunaan inovasi teknologi kedokteran tidak pada tempatnya yang biasanya terlambat untuk memahami konsekuensi etis dan sosial yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, Dr. Arthur Leonard Caplan, Direktur Center for Bioethics dan Guru Besar Bioethics di University of Pennsylvania menganjurkan pentingnya komitmen etika biologi dalam praktek teknologi kedokteran apa yang disebut sebagai bioetika.

Menurut John Naisbitt dalam High Tech – High Touch (1999) bioetika bermula sebagai bidang spesialisasi paada 1960-an sebagai tanggapan atas tantangan yang belum pernah ada, yang diciptakan oleh kemajuan di bidang teknologi pendukung kehidupan dan teknologi reproduksi. Inseminasi buatan ialah pembuahan pada hewan atau manusia tanpa melalui senggama (sexual intercourse). Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah dikembangkan dalam dunia kedokteran, antara lain adalah:

Pertama; Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer di rahim istri. Kedua; Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (tuba palupi) Teknik kedua ini terlihat lebih alamiah, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di tuba palupi setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan seksual.

Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan Islam termasuk masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya seara spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini hendak dikaji menurut Hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun, kajian masalah inseminasi buatan ini seyogyanya menggunakan pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar.

Pembahasan dan pengkajian seputar inseminasi pada hewan dan manusia sudah cukup lama di kenal pada  dunia kedokteran dan pendidikan.  Yang secara keseluruhan memiliki nuansa kajian yang beragam dan subyektif, sehingga layak kiranya jika penulis kembali menelaah ulang seputar inseminasi buatan pada hewan dan manusia.  Kemudian penulis tuangkan dalam sebuah judul makalah yang berjudul “ ENSIMINASI BUATAN PADA HEWAN DAN MANUSIA”

 

 

B.     Identifikasi Masalah

Pembahasan seputar ensiminasi buatan pada hewan dan manusia merupakan suatu bahasan yang sangat riskan dengan permasalahan-permasalah, bahkan dari satu bahasan akan muncul berbagai masalah baru.  Akan tetapi secara umum ensiminasi buatan memiliki masalalah-masalah sebagi mberikut :

1.      Tekanan ekonomi di era global berdampak pada persaingan produk, sehingga mereka perlu membuat menu siap saji, hewan tidak lagi diperanakkkan secara normal sebab memakan waktu yang lama, sehingga perlu motode yang lain yaitu ensiminasi buatan pada hewan

2.      Kemajuan Tehnologi akibat dari perkembangan globalisasi membentuk karakter orang yang praktis dan menguntungkan, sehingga dalam urusan peranakan tidak mau capek, mereka menginginkan yang instant, sehingga mereka mengunakan ensiminasi buatan pada manusia.

3.      Wanita dan pria modern karena lingkungan mereka dipenuhi berbagai tekanan dan persaingan hidup, berakibat sulit memiliki keturunan.  Sehingga perlu membuat langkah baru yaitu ensiminasi buatan.

4.      Dunia kedokteran dituntut oleh naluri keilmuan membuat inovasi baru yang mampu dipasarkan dan berguna untuk masyarakat modern, yang mengesampingkan nilai etika dan akidah.  Sehingga mereka merumuskan dan meriset modeto baru yaitu ensiminasi buatan pada hewan dan manusia.

5.      Para pemuka agama yang setiap langkah berangkat dari keyakinan, menjadikan mereka bersikap fundamental pada kemajuan tehnologi modern bahkan menolak kemajuan di antaranya menemuan baru tentang ensiminasi buatan pada hewan dan manusia.  Mereka berusaha mencari alasan-alasan (dalil ) untuk menolak kemajuan teknologi modern.

6.      Masyarakat dari berbagai disiplin interdisipliner menerima kemajuan dengan sangat arogan, sehingga menjadikan mereka perselisih paham seputar ensiminasi buatan, yang berakibat perpecahan komonitas sosial.

7.      Budaya kuno dan konsep tawadhu’ pada masyarakat islam membentuk karakter  patuh pada hukum salafi yang berimbas pada penolakan modernitas, padalah mereka hidup di zaman modern.  Sehingga pelaksanaan ensiminasi buatan mereka tolak mentah-mentah secara pemikiran anarkis.

C.     Pembatasan Masalah

Jika memperhatikan identifikasi masalah sebagaimana tersebut di atas, tentu perlu membuat kajian yang cukup memakan waktu yang lama dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.  Sehingga dalam kajian ini penulis membatasi kajian hanya pada bahasan seputar landasan dasar atau alasan-alasan ( dalil ) pokok tentang inseminasi buatan pada hewan dan manusia.

 

D.    Rumusan Masalah

Pokok bahasan yang penulis ajukan sebagaimana tertuang di dalam pembatasan masalah, penulis rumuskan sebagai berikut ?

1.      Apakah yang menjadi lansan terbentuknya ensiminasi buatan ?

2.      Kenapa para tokoh agamawan menolak teori ensiminasi buatan ?

3.      Alasan (dalil) yang bagaimanakah agar sesuai dengan era modern seputar ensiminasi buatan ini ?

E.     Tujuan Penulisan

Dengan mengadakan penelitian dan kajian seputar ensiminasi buatan ditinjau dari aspek landasan pokok, supaya mengetahuai beberapa hal sebagai berikut :

1.      Supaya mengetahui landasan dalil para ilmuwan dalam merumuskan penemuan ensiminasi buatan pada hewan dan manusia

2.      Supaya mengetahui alasan para pemuka agama yang menolak keajuan tehnologi penemuan ensiminasi buatan pada hewan dan manusia.

3.      Supaya memahami dalil yang sesuai dengan penemuan ensiminasi buatan pada hewan dan manusia di era modern.

 

F.      Kerangka Pemikiran

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa, karsa dan daya cipta yang dimiliki. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan).

Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dikembangkan adalah inseminasi buatan. Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen.

Inseminasi buatan yang dilakukan untuk menolong pasangan yang mandul, untuk mengembang biakan manusia secara cepat, untuk menciptakan manusia jenius, ideal sesuai dengan keinginan , sebagai alternative bagi manusia yang ingin punya anak tetapi tidak mau menikah dan untuk percobaan ilmiah

Para ahli Ushul fiqh telah membahas maqasid syari’ah, yakni untuk mewujudkan kemaslahatan umat yang berpangkal dari misi Islam “menjaga rahmad bagi alam semesta”. Memindahkan bahkan mencampurkan sperma pada hewan dan hewan lain atau pada seseorang terhadap orang lain ini merupakan salah satu bahasan dari lima pokok ajaran Islam yang sangat perlu diperhatikan, yakni mengenai keturunan.

Pada dasarnya pemeliharaan keturunan adalah demi menjaga ketetiban umat. Disini akan tampak perbedaan antara tradisi kelahiran manusia dan kelahiran hewan, hewan tidak ada permasalahan siapa ayah serta silsilah, tetapi manusia senantiasa memerlukan kejelasan baik pertanggungjawabannya di dunia maupun di akherat nanti.

Hubungan seks pada dasarnya adalah ibadah sehingga proses dan praktiknya pun harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan Islam, yakni dalam perkawinan yang syah, sehingga ada pertanggungjawaban antara suami dan istri. Dalam pembicaraan Hukum Islam antara “sah” dan “haram” itu terkadang bisa berjalan bersama-sama.

Sebagai contoh adalah mengenai rahim sewaan, mungkin akan ada yang berpendapat melonggarkan konsep radha’ah (susuan). Namun dalam Islam, rahim adalah sesuatu yang sangat terhormat, sehingga perbuatan seperti itu tetap melanggar ketentuan Islam. Contoh lain adalah salat degan mengenakan pakaian ghasab atau hasil curian. Dalam kasus ini, shalat seseorang adalah sah, namun perbuatannya haram. Dalam istilah biologi istilah memindahkan sperma biasa disebut dengan inseminasi dan pencampuran biasa disebut bank nutfah.

 

 

G.    Sistematika Penulisan

Sistematika ini merupakan gambaran keseluruhan dari makalah ini, sehingga akan mudah untuk dipahami. Sistemaika ini penulis susun menjadi lima bab, dan dari bab-bab tersebut dibagi menjadi sub bab.  Adapun gambaran bab dan sub bab dari makalah ini secara kesuluruahannya sebagai berikut :

Bab pertama, pendahuluan, meliputi : latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, kerangka pemikiran dan sistematika pembahasan. 

Selanjutnya, dalam bab kedua penulis memaparkan tentang eksistensi ensiminasi buatan, meliputi : definisi ensiminasi, teknik inseminasi dan  sumber sperma.

Kemudian, pada bab ketiga mengenai tentang ensiminasi buatan ditinjau dari speknya.  Dalam bab ini memiliki sub bab, di antaranya : inseminasi buatan ditinjau dari aspek dampaknya, ensiminasi ditinjau dari aspek sosial dan ensiminasi ditinjau dari aspek hukum.

Kemudian, pada bab empat yang merupakan inti isi makalah ini yang memuat tentang landasan dalil ensiminasi buatan.  Pada bab ini penulis menuangkan sub bab sebagai berikut : landasan dalil pembolehan insiminasi buatan, pada manusia, pada hewan dan landasan dalil pelarangan insiminasi buatan.

Akhirnya, penulis tuntaskan pada bab kelima, meliputi simpulan dan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  II

EKSISTENSI ENSIMINASI BUATAN

 

 

A.  Definisi Ensiminasi

Inseminasi bauatan merupakan terjemahan dari artificial insemination . Artificial artinya buatan ataua tiruan , sedangkan insemination berasal dari kata latin . Inseminatus artinya pemasukan atau penyampaian . artificial insemination adalah penghamilan atau pembuahan buatan . Dalam kamus ﺢﻴﻘﻠﺗ ﻰﻋﺎﻨﺼﻟﺍ , seperti dalam kitab al – fatawa karangan mahmud syaltut . Jadi, insiminasi buatan adalah penghamilan buatan yang dilakukan terhadap wanita dengan cara memasukan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter , istilah lain yang semakna adalah kawin suntik , penghamilan buatan dan permainan buatan ( PB ).

Sedangkan yang dimaksud dengan bayi tabung ( Test tubebaby ) adalah bayi yang di dapatkan melalui proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim sehingga terjadi embrio dengan bantuan ilmu kedokteran . Dikatakan sebagai kehamilan , bayi tabung karena benih laki – laki yang disedut dari zakar laki-laki disimpan dalam suatu tabung.  Untuk menjalani proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim, perlu disediakan ovom ( sel telur dan sperma ).

Jika saat ovulasi ( bebasnya sel telur dari kandung telur ) terdapat sel – sel yang masak maka sel telur itu di hisab dengan sejenis jarum suntik melalui sayatan pada perut, emudian di taruh dalam suatu taqbung kimia , lalu di simpan di laboratorium yang di beri suhu seperti panas badan seorang wanita . Kedua sel kelamin tersebut bercampur ( zygote ) dalam tabung sehingga terjadinya fertilasi. Zygote berkembang menjadi morulla lalu dinidasikan ke dalam rahim seorang wanita. Akhirnya wanita itu akan hamil . Inseminasi permainan ( pembuahan) buatan telah dilakukan oleh para sahabat nabi terhadap pohon korma .  Bank sperma atau di sebut juga bank ayah mulai tumbuh pada awal tahun 1970.

 

B.  Teknik Inseminasi

            Menurut ilmu kedokteran ensiminasi memiliki dua metode atau teknik, yaitu :

  1. Teknik IUI (Intrauterine Insemination) Teknik IUI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan melalui leher rahim hingga ke lubang uterine (rahim).
  2. Teknik DIPI (Direct Intraperitoneal  Insemination) Teknik DIPI telah dilakukan sejak awal tahun 1986. Teknik DIPI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan langsung ke peritoneal (rongga peritoneum).

Teknik IUI dan DIPI dilakukan denganbmenggunakan alat yang disebut bivalve speculum, yaitu suatu alat yang berbentuk seperti selang dan mempunyai 2 cabang, dimana salah satu ujungnya sebagai tempat untuk memasukkan/menyalurkan sperma dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam saluran leher rahim untuk teknik IUI, sedangkan untuk teknik DIPI dimasukkan ke dalam peritoneal. Jumlah sperma yang disalurkan/diinjeksikan kurang lebih sebanyak 0,5–2 ml. Setelah inseminasi selesai dilakukan, orang yang mendapatkan perlakuan inseminasi tersebut harus dalam posisi terlentang selama 10–15 menit.

 

C.  Sumber Sperma

Ada 2 jenis sumber sperma yaitu:

  1. Dari sperma suami.  Inseminasi yang menggunakan air mani suami hanya boleh dilakukan jika jumlah spermanya rendah atau suami mengidap suatu penyakit.  Tingkat keberhasilan AIH hanya berkisar 10-20 %. Sebab-sebab utama kegagalan AIH adalah jumlah sperma suami kurang banyak atau bentuk dan pergerakannya tidak normal.
  2. Sperma penderma.  Inseminasi ini dilakukan jika suami tidak bisa memproduksi sperma atau azoospermia atau pihak suami mengidap penyakit kongenital[4] yang dapat diwariskan kepada keturunannya.

Penderma sperma harus melakukan tes kesehatan terlebih dahulu seperti tipe darah, golongan darah, latar belakang status physikologi, tes IQ, penyakit keturunan, dan

bebas dari infeksi penyakit menular. Tingkat keberhasilan Inseminasi AID adalah 60-70%. Penyiapan sperma Sperma dikumpulkan dengan cara marturbasi, kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril setelah 2-4 hari tidak melakukan hubungan seksual. Setelah dicairkan dan dilakukan analisa awal sperma, teknik “Swim-up” standar atau “Gradient Percoll” digunakan untuk persiapan penggunaan larutan garam seimbang Earle atau Medi. Cult IVF medium, keduanya dilengkapi dengan serum albumin manusia.

Dalam teknik Swim-up, sampel sperma disentrifugekan sebanyak 400 g selama 15 menit. Supernatannya dibuang, pellet dipisahkan dalam 2,5 ml medium, kemudian disentrifuge lagi. Sesudah memisahkan supernatannya, dengan hati-hati pellet dilapisi dengan medium dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37º C.  Sesudah diinkubasi, lapisan media yang berisi sperma motile dikumpulkan dengan hati-hati dan digunakan untuk inseminasi. Pada teknik Percoll, sperma dilapiskan pada Gradient Percoll yang berisi media Medi. Cult dan disentrifugekan sebanyak 500 g selama 20 menit. 90 % dari pellet kemudian dipisahkan dalam 6 ml media dan disentrifugekan lagi sebanyak 500 g selama 10 menit. Pellet sperma kemudian dipisahkan dalam 0,5 atau 1 ml medium dan digunakan untuk inseminasi.

Pemeriksaan Laboratorium Analisis Sperma dilakukan untuk mengetahui kualitas sperma, sehingga bisa diperoleh kualitas sperma yang benar-benar baik. Penetapan kualitas ekstern di dasarkan pada hasil evaluasi sampel yang sama yang dievaluasi di beberapa laboratorium, dengan tahapan-tahapan: Pengambilan sampel, Penilaian Makroskopik, Penialain Mikroskopis, Uji Biokimia, Uji Imunologi, Uji mikrobiologi, Otomatisasi, Prosedur ART, Simpan Beku Sperma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  III

ENSIMINASI BUATAN DITINJAU DARI ASPEKNYA

 

 

A.  Inseminasi Buatan Ditinjau dari aspek Dampaknya

Menurut para ahli kedokteran, dalam pembuahan normal, antara 50.000-100.000 sel sperma, berlomba membuahi 1 sel telur. Dalam pembuahan normal, berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin, dimana sel yang paling kuat dan sehat adalah yang menang. Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium.

Jadi, bukan dengan sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas labolatorium dapat memisahkan mana sel sperma yang kelihatannya sehat dan tidak sehat. Akan tetapi, kerusakan genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Dengan cara itu, resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat, menjadi cukup besar. Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara genetik tidak sehat, para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan yang menentukan.

Kesalahan pada saat injeksi sperma, merupakan salah satu factor kerusakan genetika. Secara alamiah, sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama akrosom [5] berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur. Dalam proses pembuahan secara alamiah, hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur.

Sementara dalam proses inseminasi buatan, dengan  injeksi sperma, enzim akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam sel telur. Selama enzim akrosom belum terurai, maka pembuahan akan terhambat. Selain itu prosedur injeksi sperma memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur, yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom.

Keberhasilan inseminasi buatan tergantung tenaga ahli di labolatorium, walaupun prosedurnya sudah benar, bayi dari hasil inseminasi buatan dapat memiliki resiko cacat bawaan lebih besar daripada dibandingkan pada bayi normal. Penyebab dari munculnya cacat bawaan adalah kesalahan prosedur injeksi sperma ke dalam sel telur.

Hal ini bisa terjadi karena satu sel sperma yang dipilih untuk digunakan pada inseminasi buatan belum tentu sehat, dengan cara ini resiko mendapatkan sel sperma yang secara genetik tidak sehat menjadi cukup besar. Cacat bawaan yang paling sering muncul antara lain bibir sumbing, down sindrom, terbukanya kanal tulang belakang, kegagalan jantung, ginjal, dan kelenjar pankreas.

Seperti diketahui kemampuan berpikir dan bernalar membuat manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, sering pula teknologi yang kita hasilkan itu memberikan efek samping yang memberikan dampak negatif. Oleh sebab itu ada beberapa orang yang pro dan kontra terhadap teknologi tersebut.

 

B.  Ensiminasi Ditinjau dari Aspek Sosial

Posisi anak menjadi kurang jelas dalam tatanan masyarakat, terutama bila sperma yang digunakan berasal dari bank sperma atau sel sperma yang digunakan berasal dari pendonor, akibatnya status anak menjadi tidak jelas. Selain itu juga, di kemudian hari mungkin saja terjadi perkawinan antar keluarga dekat tanpa di sengaja, misalnya antar anak dengan bapak atau dengan ibu atau bisa saja antar saudara sehingga besar kemungkinan akan lahir generasi cacat akibat inbreeding. Lain halnya dengan kasus seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dan dia ingin mempunyai anak dari sperma beku suaminya.  Hal ini dianggap etis karena sperma yang digunakan berasal dari suaminya sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah sosial, karena status anak yang dilahirkan merupakan anak kandung sendiri. 

Kasus lainnya adalah seorang wanita ingin mempunyai anak dengan inseminasi tetapi tanpa menikah, dengan alasan ingin mempunyai keturunan dari seseorang yang diidolakannya seperti artis dan tokoh terkenal. Kasus tersebut akan menimbulkan sikap tidak etis, karena sperma yang diperoleh sama halnya dari sperma pendonor, sehingga akan menyebabkan persoalan dalam masyarakat seperti status anak yang tidak jelas. Selain itu juga akan ada pandangan negatif kepada wanita itu sendiri dari masyarakat sekitar, karena telah mempunyai anak tanpa menikah dan belum bersuami.

 

C.  Ensiminasi Ditinjau Dari Aspek Hukum

Dilihat dari segi hukum pendonor sperma melanggar hukum. Contoh kasus pada bulan Juni 2002, pengadilan di Stockholm, Swedia menjatuhkan hukuman kepada laki-laki yang mengaku sebagai pendonor sperma kepada pasangan lesbian yang akhirnya bercerai. Dan diberi sanksi untuk memberi tunjangan terhadap 3 orang anak hasil inseminasi spermanya, sebesar 2,5 juta perbulan. Dalam kasus ini akan timbul sikap etis dan tidak etis.

Sikap etis timbul dilihat dari sikap pendonor sperma yang telah memberikan spermanya kepada pasangan lesbian, karena berusaha untuk membantu pasangan tersebut untuk mempunyai anak.Sedangkan sikap tidak etis muncul dari pasangan lesbian yang bercerai, karena telah menuntut pertanggungjawaban kepada pendonor sperma yang mengaku sebagai ayahnya untuk memberikan tunjangan hidup bagi ke-3 anak hasil inseminasi spermanya.

Dengan demikian maka inseminasi buatan harus berlandaskan nilai etika tertentu, karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Etika diperlukan untuk menentukan arah perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis, sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  IV

LANDASAN DALIL ENSIMINASI BUATAN

 

 

A.     Landasan Dalil Pembolehan Insiminasi Buatan

1.  Pada Manusia

Hadirnya seorang anak merupakan tanda dari cinta kasih pasangan suami istri, tetapi tidak semua pasangan dapat melakukan proses reproduksi secara normal. Sebagian kecil diantaranya memiliki berbagai kendala yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki keturunan.  Inseminasi buatan pertama kali dilakukan pada manusia dengan menggunakan sperma dari suami telah dilakukan secara intravagina pada tahun 1700 di Inggris.

Sophia Kleegman dari Amerika Serikat adalah salah satu perintis yang menggunakan inseminasi buatan dengan sperma suami ataupun sperma donor untuk  kasus infertilitas. Pada wanita kendala ini dapat berupa hipofungsi ovarium, gangguan pada saluran reproduksi dan rendahnya kadar progesterone. Sedangkan pada pria berupa abnormalitas, spermatozoa kriptorkhid, azoospermia dan rendahnya kadar testosterone..

Selain untuk memperoleh keturunan, faktor kesehatan juga merupakan fokus utama penerapan teknologi reproduksi. Sebagai contoh kasus: Di Colorado Amerika Serikat pasangan Jack dan Lisa melakukan program inseminasi, bukan semata-mata untuk mendapatkan keturunan tetapi karena memerlukan donor bagi putrinya Molly yang berusia 6 tahun yang menderita penyakit fanconi anemia, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sumsum tulang belakang sebagai penghasil darah. Jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit leukemia.

Satu-satunya pengobatan adalah melakukan pencangkokan sumsum tulang dari saudara sekandung, tetapi masalahnya Molly anak tunggal. Yang dimaksud inseminasi disini diterapkan untuk mendapatkan anak yang bebas dari penyakit fanconi anemia agar dapat diambil darahnya sehingga diharapkan akan dapat merangsang sumsum tulang belakang Molly untuk memproduksi darah.

Inseminasi buatan yang dilakukan untuk menolong pasangan yang mandul , untuk

mengembang biakan manusia secara cepat, untuk menciptakan manusia jenius, ideal sesuai dengan keinginan , sebagai alternative bagi manusia yang ingin punya anak tetapi tidak mau menikah dan untuk percobaan ilmiah

 

Inseminasi buatan dilihat dari asal sperma yang dipakai dapat dibagi dua :

a.       Inseminasi buatan dengan sperma sendiri atau AIH ( artificial insemination husband)

b.      Inseminasi buatan yang bukan sperma suami atau di sebut donor atau AID (artificial insemination donor) untuk inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri di bolehkan bila keadaannya benar- benar memaksa pasangan itu untuk melakukannya dan bila tidak akan mengancam keutuhan rumah tangganya ( terjadinya perceraian ) sesuai dengan kaidah usul fiqh …………. . ﺔﺟﺎﺤﻟﺍ ﻝﺰﻨﺗ ﺔﻟﺰﻨﻣ ﺓﺭﻭﺮﻀﻟﺍ “ hajat itu keperluan yang sangat penting dilakukan seperti keadaan darurat ”.

 

Adapun tentang inseminasi buatan dengan bukan sperma suami atau sperma donor para ulama mengharamkannya, seperti pendapat Yusuf Al – Qardhawi yang menyatakan bahwa islam juga mengharamkan pencakukan sperma ( bayi tabung ). Apabila pencakukan itu bukan dari sperma suami. Mahmud Syaltut mengatakan bahwa penghamilan buatan adalah pelanggaran yang tercela dan dosa besar, setara dengan zina, karena memasukan mani’ orang lain ke dalam rahim perempuan tanpa ada hubungan nikah secara syara’ , yang dilindungi hukum syara’ .

Pada inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri tidak menimbulkan masalah pada semua aspeknya, sedangkan inseminasi buatan dengan sperma donor banyak menimbulkan masalah di antaranya masalah nasab .

 

2.  Pada Hewan

Sedangkan hukum inseminasi buatan pada hewan dan hasilnya sebagaimana yang sering orang lakukan juga harus diddudukkanmasalahnya. Pada umumnya, hewan baik yang hidup di darat, air dan udara, adalah halal dimakan dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kesejahteraan hidupnya, kecuali beberapa jenis makanan/hewan yang dilarang dengan jelas oleh agama.

Kehalalan hewan pada umumnya dan hewan ternak pada khususnya adalah berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah:29, yang menyatakan bahwa semua yang ada di planet bumi ini untuk kesejahteraan manusia. Dan juga surat Al-Maidah:2, yang menyatakan bahwa semua hewan ternak dihalalkan kecuali yang tersebut dalam Al-An’am:145, An-Nahl:115, Al-Baqoroh:173 dan Al-Maidah:3.

Ketiga surat dan ayat yang pertama tersebut hanya mengharamkan 4 jenis makanan saja, yaitu bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Sedangkan surat dan ayat yang disebut terakhir mengharamkan 10 jenis makanan, yaitu 4 macam makanan yang tersebut di atas ditambah 6, yakni: 1. Hewan yang mati tercekik, 2. Yang mati dipukul, 3. Yang mati terjatuh, 4. Yang mati ditanduk, 5. Yang mati diterkam binatang buas, kecuali yang sempat disembelih dan 6. Yang disembelih untuk disajikan pada berhala.

Mengenai hewan yang halal dan yang haram, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, yaitu:

  1. ulama yang hanya mengharamkan 10 macam makanan/hewan yang tersebut dalam Al-Maidah: 3, sebab ayat ini termasuk wahyu terakhir yang turun. Mahmud Syaltut, mantan Rektor Univ. Al-Azhar mendukung pendapat ini.
  2. Ulama hadits menambah beberapa larangan berdasarkan hadits Nabi, yaitu antara lain: semua binatang buas yang bertaring, semua burung yang berkuku tajam, keledai peliharaan/jinak dan peranakan kuda dengan keledai (bighal).
  3. Ulama fiqih/mazhab menambah daftar sejumlah hewan yang haram dimakan berdasarkan ijtihad, yaitu antara lain: semua jenis anjing termasuk anjing hutan dan anjing laut, rubah, gajah, musang/garangan, burung undan, rajawali, gagak, buaya, tawon, semua jenis ulat dan serangga.
  4. Rasyid Ridha, pengaran Tafsir Al-Manar berpendapat bahwa yang tidak jelas halal/haramnya berdasarkan nash Al-Qur’an itu ada dua macam:

1.      Semua jenis hewan yang baik, bersih dan enak/lezat (thayyib) adalah halal.

2.      Semua hewan yang jelek, kotor dan menjijikan adalah haram. Namun kriteria baik, bersih, enak, menarik atau kotor, jelek dan menjijikan tidak ada kesepakatan ulama di dalamnya. Apakah tergantung selera dan watak masing-masing orang atau menurut ukuran yang umum.

Mengembangbiakkan dan pembibitan semua jenis hewan yang halal diperbolehkan oleh Islam, baik dengan jalan inseminasi alami (natural insemination) maupun inseminasi buatan (artificial insemination). Dasar hokum pembolehan inseminasi buatan ialah:

Pertama; Qiyas (analogi) dengan kasus penyerbukan kurma. Setelah Nabi Saw hijrah ke Madinah, beliau melihat penduduk Madinah melakukan pembuahan buatan (penyilangan/perkawinan) pada pohon kurma. Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukan itu, kemudian ternyata buahnya banyak yang rusak. Setelah hal itu dilaporkan pada Nabi, beliau berpesan : “lakukanlah pembuahan buatan, kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”

Oleh karena itu, kalau inseminasi buatan pada tumbuh-tumbuhan diperbolehkan, kiranya inseminasi buatan pada hewan juga dibenarkan, karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan untuk kesejahteraan umat manusia. ( QS. Qaaf:9-11 dan               An-Nahl:58 ).

Kedua; kaidah hukum fiqih Islam “al-ashlu fil asya’ al-ibahah hatta yadulla dalil ‘ala tahrimihi” (pada dasarnya segala sesuatu itu boleh, sampai ada dalil yang jelas melarangnya). Karena tidak dijumpai ayat dan hadits yang secara eksplisit melarang inseminasi buatan pada hewan, maka berarti hukumnya mubah.

Namun mengingat risalah Islam tidak hanya mengajak umat manusia untuk beriman, beribadah dan bermuamalah di masyarakat yang baik (berlaku ihsan) sesuai dengan tuntunan Islam, tetapi Islam juga mengajak manusia untuk berakhlak yang baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan sesama makhluk termasuk hewan dan lingkungan hidup, maka patut dipersoalkan dan direnungkan, apakah melakukan inseminasi buatan pada hewan pejantan dan betina secara terus menerus dan permanen sepanjang hidupnya secara moral dapat dibenarkan? Sebab hewan juga makhluk hidup seperti manusia, mempunyai nafsu dan naluri untuk kawin guna memenuhi insting seksualnya, mencari kepuasan (sexual pleasure) dan melestarikan jenisnya di dunia.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa mengembangbiakkan semua jenis hewan yang halal (yang hidup di darat, air dan terbang bebas di udara) diperbolehkan Islam, baik untuk dimakan maupun untuk kesejahteraan manusia. Pengembangbiakan boleh dilakukan dengan inseminasi alami maupun dengan inseminasi buatan. Inseminasi buatan pada hewan tersebut hendaknya dilakukan dengan memperhatikan nilai moral Islami sebagaimana proses bayi tabung pada manusia tetap harus menjunjung tinggi etika dan kaedah-kaedah syariah.

 

B.     Landasan Dalil Pelarangan Insiminasi Buatan

Para ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama dan etika. Masalah inseminasi buatan ini sejak tahun 1980-an telah banyak dibicarakan di kalangan Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514 tanggal 1 September 1986.

Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor atau ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan ovum dari isteri sendiri. Vatikan secara resmi tahun 1987 telah mengecam keras pembuahan buatan, bayi tabung, ibu titipan dan seleksi jenis kelamin anak, karena dipandang tak bermoral dan bertentangan dengan harkat manusia.

Mantan Ketua IDI, dr. Kartono Muhammad juga pernah melemparkan masalah inseminasi buatan dan bayi tabung. Ia menghimbau masyarakat Indonesia dapat memahami dan menerima bayi tabung dengan syarat sel sperma dan ovumnya berasal dari suami-isteri sendiri.

Dengan demikian, mengenai hukum inseminasi buatan dan bayi tabung pada manusia harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas. Bila dilakukan dengan sperma atau ovum suami isteri sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian disuntikkan ke dalam vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun dengan cara pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya (vertilized ovum) ditanam di dalam rahim istri; maka hal ini dibolehkan, asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan. Hal ini sesuai dengan kaidah ‘al hajatu tanzilu manzilah al-dharurat’ (hajat atau kebutuhan yang sangat mendesak diperlakukan seperti keadaan darurat).

Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Menurut hemat penulis, dalil-dalil syar’i yang dapat dijadikan landasan menetapkan hukum haram inseminasi buatan dengan donor ialah:

Pertama; firman Allah SWT dalam surat al-Isra:70 dan At-Tin:4. Kedua ayat tersebuti menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati martabatnya sendiri serta menghormati martabat sesama manusia. Dalam hal ini inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya dapat merendahkan harkat manusia sejajar dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diinseminasi.

Kedua; hadits Nabi Saw yang mengatakan, “tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat mengharamkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari istri orang lain. Tetapi mereka berbeda pendapat apakah sah atau tidak mengawini wanita hamil. Menurut Abu Hanifah boleh, asalkan tidak melakukan senggama sebelum kandungannya lahir. Sedangkan Zufar tidak membolehkan. Pada saat para imam mazhab masih hidup, masalah inseminasi buatan belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa memperoleh fatwa hukumnya dari mereka.

Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum, karena kata maa’ dalam bahasa Arab bisa berarti air hujan atau air secara umum, seperti dalam Thaha:53. Juga bisa berarti benda cair atau sperma seperti dalam An-Nur:45 dan Al-Thariq: 6.

Dalil lain untuk syarat kehalalan inseminasi buatan bagi manusia harus berasal dari ssperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah adalah kaidah hukum fiqih yang mengatakan “dar’ul mafsadah muqaddam ‘ala jalbil mashlahah” (menghindari mafsadah atau mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik maslahah/kebaikan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahah. Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu suami-isteri yang mandul, baik keduanya maupun salah satunya, untuk mendapatkan keturunan atau yang mengalami gangguan pembuahan normal. Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain berupa:

a.       Percampuran nasab, padahal Islam sangat menjada kesucian/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kemahraman dan kewarisan.

b.      Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.

c.       Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.

d.      Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tanggal.

e.       Anak hasil inseminasi lebih banyak unsure negatifnya daripada anak adopsi.

f.        Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada pasangan suami-isteri yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami. (QS. Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).

Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi atau hubungan perzinaan. Dan kalau kita bandingkan dengan bunyi pasal 42 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah” maka tampaknya memberi pengertian bahwa anak hasil inseminasi buatan dengan donor itu dapat dipandang sebagai anak yang sah. Namun, kalau kita perhatikan pasal dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini, terlihat bagaimana peranan agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu yang berkaitan dengan perkawinan.

Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan), pasal 8 (f) tentang larangan perkawinan antara dua orang karena agama melarangnya. Lagi pula negara kita tidak mengizinkan inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum, karena tidak sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.

 

 

 

 

BAB  V

PENUTUP

 

A.     Simpulan

Dari uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan:

  1. Proses pemindahan sperma pada hewan adalah boleh.
  2. Proses inseminasi buatan dengan sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang sah adalah boleh menurut agama, walaupun ada beberpa golongan yang tidak membolehkan.
  3. Proses inseminasi buatan dengan sperma dan ovum dari bukan pasangan suami istri yang sah adalah hukumnya terlarang agama.

 

 

 

B.     Saran-saran

1.      Para pemuka agama hendaknya konsisten dalam menetapkan keharaman inseminasi yang bukan dari pasangan yang sah.

2.      Pemerintah hendaknya melarang berdirinya bank nutfah karena selain bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45, juga bertentangan dengan norma agama dan moral, serta merendahkan martabat dan hartabat manusia yang tergambar di Al-Qur’an sebagai makhluk yang paling sempurna.

3.      Pemerintah hendaknya melarang keras praktek inseminasi buatan dengan sperma donor.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Madjid, Masail Fiqhiyyah, Pasuruan : PT. Garoeda Buana Indah, 2000, cet. Ke-5

Anttila, L., Penttila, TA, & Suikkari, AM., Successful pregnancy after in vitro fertilization and transmyometrial embryo transfer in a pacient with congenital atresia of cervix: case report. Hum reprod  (Article) 1999, Edisi 14

Azizy, Ahmad Qodri,  Islam Dan Permasalahan Sosial, Yogyakarta : LKIS, 2000,  cet. Ke-1

Barciulli, F, Ricci, G, Levi D`Ancona, R, et all., Our experience with direct intraperitoneal insemination (DIPI) as a treatment for infertile couples. Acta Eur Fertill. 1990.Edisi 21

Ben Rhouma, K, Ben Marzouk, A, Rihani, M, & Bakir, M., Direct intraperitoneal insemination and controlled ovarian hyperstimulation in subfertile couples. J Assist Repro Genet, (Article) 1994, Edisi 11

Beno, E, Bioteknologi Dan Bioetika, Jakarta : Kanisius, 1988, t.cet.

Hadiwardoyo, A. P., Moral Dan Masalahnya, Yogyakarta : Kanisius, 1990, t.cet.

Jalil Isa, Ma la Yajuz Fih al-Khilaf Baina al-Muslimin (terjemah), Pasuruan, GBI, 1991, cet., Ke-3

Mahjudin, Masail Fiqiyah Berbagai Kasus Yang Dihadapi “Hukum Islam” Masa Kini, Jakarta : Kalam Mulia, 2008, cet., Ke-7

Mangundiwirjo, Daldiri, Pendewasaan Masa Perkawinan Ditinjau Dari Kesehatan Jiwa, Surabaya : BKKBN, 1983, t.cet.

Misao, R, Itoh, M, Nakanishi, Y,& Tamaya, T., Direct intraperitoneal insemination in ovarian hyperstimulation cycles included with gonadoptropin-releasing hormone agonis, Clin Exp Obstet Gynecol, (Article)  1997 Edisi 24

Mujieb, Dkk., Kamus Istilah Fiqh, Jakarta : PT Pustaka Firdaus, 1994, cet., ke-4

Shannon, T. A., Pengantar Bioetika, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995), cet. Ke-2

Sills, E. S., and Gianpiero, D. P., (Intrauterine pregnancy following low-dose gonadotropin ovulation induction and direct intraperitoneal insemination for severe cervical stenosis, BMC Pregnancy childbirth,  (Article) 2002, Edisi  2 ;.

Suwito, Ed. Chuzaimah dan Hafid, Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta : LSIK, 2002, cet. Ke-3

Tiemessen, CH, Bots, RS, peters, MF, & Evers, JL, Direct intraperitoneal insemination compared to intrauterine insemination in supperovulation cycles: a randomized cross-over study, Gynecol Obstet Invest, (Article), Edisi  44

Verkuyl, J., Etika Kristen Seksuil, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1984, t.cet.

Wanandi, S. I. SOBOTTA, Atlas Anatomi Manusia, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000 , t.cet

Zuhdi, Masjfuk,  Masail Fiqhiyah, Jakarta : PT. Toko Gunung Agung, 1994, t.cet.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s