EDSI ILMU AL-QUR’AN DAN PENERAPANNYA

PERBEDAAN QIRA’AT SERTA PENGARUHNYA
TERHADAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN DAN ISTINBAT HUKUM
(Studi Terhadap Tafsir Jami’ al-Bayan Karya ath-Thabari)

A. Pendahuluan
Al-Qur’an, merupakan sumber ajaran islam yang pertama, hal ini telah diakui oleh seluruh umat muslim. Al-Qur’an berisi berbagai petunjuk untuk kemaslahatan umat manusia. Akan tetapi dalam penafsiran istimbat hukum para ulama berbeda pendapat, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, yang di anataranya qira’ah. Dari berbedaan cara baca al-Qur’an (qira’ah) menjadi salah satu unsur yang menyebabkan perbedaan hukum islam.
Qira’ah di dalam al-Qur’an ada beberapa macam, yang didasarkan pada imamnya masing-masing. Dari keberagaman imam itu membawa cara baca al-Qur’an yang bebeda. Menurut para ulama, muncul sejumlah istilah popular yang menisbatkan pada jumlah qira’ah, misalnya qira’ah sab’ah, qira’ah al-‘asyr dan qira’ah al-‘arba’ ‘asyrah. Yang paling popular dan paling mendapatkan perhatian secara luas adalah qira’ah sab’ah. Yaitu qira’ah yang dinisbatkan kepada tujuh imam terkemuka, yakni Nafi’ , Ashim , Hamzah , Ibn ‘Amir , Ibn Kasir ,Abu ‘Amir , dan Kisa’i.
Adapun yang dimaksud qira’ah ‘asyar adalah qira’ah yang dinisbatkan kepada imam tujuh dan ditambahkan dengan tiga imam, yaitu Abu Ja’far , Ya’qub dan Khalaf . Sedangkan qira’ah arba’ ‘asyar dengan penisbatan kepada sepuluh imam qira’ah yang tersebut dan ditambahkan dengan empat imam qira’ah yang lain, di antaranya, Hasan al-Bashri , Ibn Muhaishin , Yahya al-Yazidi dan Syanbudi.
Sebagaimana telah sedikit disinggung di atas bahwa, dari macam-macam qira’ah, bisa menjadikan lahirnya keberagaman hukum islam. Perbedaan qira’at al-quran yang berkaitan dengan substasi lafaz atau kalimat, adakalanya mempengaruhi makna dari lafaz atau kalimat tersebut, dan adakalanya tidak. Dengan demikian , perbedaan qira’at al-quran dalam hal ini, adakanya berpengaruh terhadap istinbath hukum, dan adakalanya tidak. Jadi qira’ah memiliki pengaruh besar dalam pembentukan hukum islam.

B. Sejarah Ilmu Qira’ah
Pada masa hidup Nabi Muhammad saw, perhatian umat terhadap kitab al-Qur’an ialah memperoleh ayat-ayat al-Qur’an itu, dengan mendengarkan, membaca, dan menghafalkannya secara lisan dari mulut ke mulut. Dari Nabi saw. kepada para sahabat, dari sahabat yang satu kepada sahabat yang lain, dan dari seorang imam ahli bacaan yang satu kepada imam yang lain.
Pada periode pertama ini, al-Qur’an belum dibukukan, sehingga dasar pembacaan dan pelajarannya adalah masih secara lisan (tanpa tulisan). Pedomannya adalah Nabi dan para sahabat serta orang-orang yang hafal al-Qur’an. Hal ini berlangsung terus sampai pada masa sahabat, masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan ‘Umar. Pada mada masa ini al-Qur’an sudah dibukukan dalam satu mushhaf. Pembukuan al-Qur’an tersebut merupakan ikhtiar khalifah Abu Bakar atas inisiatif ‘Umar bin Khatab.
Pada masa pemerintahan Khalifah Usman mushhaf al-Qur’an itu disalin dan dibuat banyak, serta dikirim ke daerah-daerah islam yang pada waktu itu sudah menyebar luas guna menjadi pedoman bacaan pelajaran dan hafalan al-Qur’an. Hal ini diupayakan oleh Khalifah Usman, karena pada waktu iti ada perselisihan sesama kaum muslimin di daerah Azzerbeijan mengenai bacaan al-Qur’an. Perelisihan tersebut hampir saja menimbulkan perang saudara sesama muslim, sebab mereka berlainan dalam menerima bacaan ayat-ayat al-Qur’an dari Nabi saw, karena Nabi saw. mengajarkan sesui dengan dialek mereka masing-masing. Tetapai karena tidak memahami maksud tujuan Nabi saw. yang begitu tadi, lalu tiap-tiap suku (golongan)menganggap hanya bacaan mereka sendiri yang benar, sedang bacaan yang lain salah, sehingga mengakibatkan perselisiahan.
Inilah pangkal perbedaan qira’ah dan tonggak sejarah tumbuhnya ilmu qira’ah. Untuk memadamkan perselisihan itu, Khalifah Usman mengadakan penyalinan mushhaf al-Qur’an dan mengirimkannya ke berbagai daerah, sehingga bisa mempersatukan kembali perpecahan umat islam. Tentunya bacaan al-Qur’an di daerah-daerah tersebut mengacu pada mushhaf yang dikirim oleh khalifah Usman tadi. Mushhaf-mushhaf yang dikirim oleh Khalifah Usman seluruhnya sama, karena semuanya berasal dari beliau.
Sesudah itu anyak bermunculan para Qari’ yang ahli dalam berbagai cara dalam membaca al-Qur’an. Mereka menjadi panutan di daerahnya masing-masing dan menjadi pedoman bacaan, dan cara-cara membaca al-Qur’an. Di samping itu tersiar juga bacaan yang bermacam-macam. Cara bacaan yang beranekaragam itu ada yang diterima, karena memenuhi persyaratan, dan ada juga yang ditolak sebab tidak memenuhi persyaratan. Kemudian, keragaman cara baca (qira’ah) dikenal oleh umat islam dengan nama qira’ah sab’ah, qira’ah ‘asyarh dan qira’ah ‘arba’ ‘asyarh.

C. Perjalanan Hidup Ath-Thabari dan Nuansa Intelektualnya
Ath-Thabari adalah salah seorang intelektual islam yang aktif diberbagai disiplin ilmu, pemikiran dan tafsirnya mampu mewarnai berbagai karya tafsir para mufasir setelah beliau. Metode dan corak tafsirnya sangat unik dan menarik untuk dikaji dan diteliti oleh para intelektual islam, baik dari segi riwayat, qira’ah, dan kedudukan i’rab yang beliau munculkan sebagai salah satu bentuk sumbangan yang sangat berharga bagi seluruh sarjana islam.
Ath-Thabari, adalah merupakan salah satu tempat di wilayah ‘Amul tempat kelahiran beliau, daerah yang masuk pada wilayah propinsi Tabaristan. Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabari. Seputar tahun tahun lahirnya beliau, para sejarawan berbeda pendapat dalam menentukan tahun kelahirannya, di antara tahun kelahirannya beliau yang dimunculkan oleh para sejarawan yaitu, tahun 224 H / 838 M dan 225 H / 839 M. Beliau berdomisili di Bagdad hingga ajal menjemputnya, yang bertepatan pada tahun 310 H / 923 M.
Sewaktu di Bairut beliau membaca al-Qur’an dihadapan al-‘Abbas bin Yazid, dikala di Mesir pada Yunus bin ‘Abd al-A’la dan lainnya. Dan beliau juga berguru pada Muhammad bin ‘Abd al-Muluk, Ishaq bin Abi Isma’il, Isma’il bin Musa al-Fazari, Hannad bin as-Sarri at-Tamimi, Abi Hammam al-Walid bin Syaja’ as-Sukuni, Abi Kuraib Muhammad bin a’-‘Ala, Hamdani, Abi Sa’id ‘Abd Allah bin Sa’id al-Asyja’, Ahmad bin Mani’ al-Baghawi, Ya’qub bin Ibrahim ad-Dauraqi, ‘Ammar bin ‘Ali al-Falas, Muhammad bin Basyar Bundar, Abi Musa Muhammad bin Musanna, ‘Abd al-A’la bin Washal, Sulaiman bin ‘Abd al-Jabar, al-Hasan bin Qaj’ah, az-Zubair bin Bakar dan lain sebagainya. Di antaranya dari ‘Iraq, Syam dan Mesir.
Kitabnya tentang tafsir, yaitu Jami’ al-Bayan fi tafsir al-Qur’an merupakan tafsir paling besar dan utama serta menjadi rujukan penting bagi para mufasir bil ma’sur. Ibnu Jarir memaparkan tafsir dengan menyandarkan kepada sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in. ia juga mengemukakan berbagai pendapat dan mentarjihkan sebagaian atas lain. Para ulama berkompeten sependapat bahwa belum pernah disusun sebuah kitab tafsir yang dapat menyamainya.
Hal lain yang penting ialah sifat terpuji dalam kehidupannya, di mana sebelum ia memulai menulis tafsir, ia melakukan shalat istikharah selama tiga tahun untuk memohon hidayah Allah.
Secara garis besar, bahwa ath-Thabari adalah seorang intelektual Islam yang aktif di berbagai disiplin ilmu. Di antara karya beliaua adalah :

1. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an
2. Tarikh al-Umam wa al-Muluk wa Akhbaruhum
3. Al-‘Adabul Hamdiyah wa al-Akhlaqun Nafisah
4. Tarikh ar-Rijal
5. Ikhtilaf al-Fuqaha’
6. Tahdhib al-Asar
7. Kitab al-Basit fi al-Fiqh
8. Al-Jami’ fi al-Qira’at
9. Kitab at-Tabsir fi al-Ushul.

C. Qira’at Serta Pengaruhnya Terhadap Penafsiran dan Istinbath Hukum dalam Jami’ al-Bayan ath-Thabari

a. Firman Allah :
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النّسَآءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنّ حَتّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهّرْنَ فَأْتُوهُنّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنّ اللّهَ يُحِبّ التّوّابِينَ وَيُحِبّ الْمُتَطَّرِينَ

Artinya:”Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘’Haid itu adalah suatu kotoran Oleh sebab itu . hendaklah kamu menjahkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” ( Qs al-Baqara:222 ).

Ayat tersebut di atas merupakan larangan bagi seorang suami, dari melakukan hubungan seksual dengan istrinya yang dalam keadaan haid. Sehubungan dengan ini, para ulama telah sepakat tentang haramnya (seorang suami) melakukan hubungan seksual (bersenggama) dengan istrinya yang sedang menjalani haid. Sama halnya dengan kesepakatan mereka, tentang bolehnya melakukan istimta’ (bercumbu) bagi seorang suami dengan isterinya yang sedang mengalami menstruasi (haid).
Adapun batas larangan yang disebutkan dalam ayat tersebut yaitu, sampai mereka (para isteri yang sedang mengalami haid) itu, dalam keadaan suci kembali.
Sementara itu, ( dalam qira’at sab’at ) Hamzah, al-kisa’i, dan ‘ashim riwayat syu’bah, membaca kata Yathurna dengan Yattahharna. Sedangkan Ibn kasir, Nafi’, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amr, dan ‘Ashim riwayat Hafsh, membaca Yathurna.
Berdasarkan qira’at Yathurna sebagian ulama menafsirkan ayat wa laa taqrabuuhunna hatta yathurna dengan, janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sampai mereka suci atau berhenti dari ke luarnya darah haid mereka.
Masing-masing Pendapat ini didukung oleh sejumlah riwayat dan hadis, didalam sejumlah kitab Tafsir. Sebagaimana at-Thabari sebutkan dalam tafsirnya, “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Basyar, dari Ibnu Mahdi dan Mu’mal, dari Sufyan, Ibnu Abi Najikh, dari Mujahid, makana firman Allah Yathurna adalah hanya sebatas berhentinya darah haid.
Sedangkan qira’at Yattahharna menunjukkan, bahwa yang dimaksud dengan ayat, wa laa taqrabuuhunna hatta yattahharna yaitu, janganlah kamu bersengama dengan mereka, sampai mereka bersuci. Dan ini merupakan pendapat yang at-Thabari pilih dalam hal persoalan ini.
Berkaitan dengan yang demikian itu, para ulama berbeda pendapat tentang pengertian at-tahhuru, sebagian ulama menyatakan bahwa yang dimaksud adalah. Sebagian dari mereka berpendapat, bahwa yang dimaksud adalah wudhu. Sebagian lagi mengatakan, bahwa yang dimaksud at-tahhuru adalah mencuci atau membersihkan farj (kemaluan) tempat keluarnya darah haid tersebut.
Sehubungan dengan ini, Imam malik, Imam syafi’i, al-Awza’i dan al-sawri berpendapat, bahwa seorang suami haram hukumnya, bersetubuh dengan isterinya yang sedang dalam keadaan haid, sampai ia (isterinya) berhenti dari haid, dan mandi karena darah haidnya.
Dalam hal ini, Imam Syafi’i mengemukakan argumentansi sebagai berikut :
1) Bahwa qira’at mutawatirah (dalam hal ini qira’at sab’at) adalah dapat dijadikan hujjat secara ijma’. Oleh karena itu, apabila ada dua versi qira’at mutawatirah Yathurna dan yattahharna dan keduanya dapat digabungkan dari segi kandungan hukumnya, maka kita wajib menggabungkannya. Qira’at yathurna mengandung arti, sampai mereka suci atau berhenti dari darah haid mereka, sementara qira’at Yattahharna mengandung arti, sampai mereka bersuci dengan air (mandi). Kedua ketentuan hukum dalam kedua qira’at tersebut, dapat digabungkan, yaitu sampai terpenuhinya kedua ketentuan hukum tersebut.
2) Firman Allah faidza tatahharna fa’tuuhunna dalam rangkaian ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang suami dibolehkan bersetubuh dengan isterinya yang telah menjalani haid, apabila telah memenuhi persyaratan yaitu, bersuci dengan mandi.
Selanjutnya, al-Qasimi menyatakan sebagai berikut. Qira’at yattahharna menunjukkan secara jelas, bahwa batas diharamkannya seorang suami menyetubuhi isterinya yang sedang haid adalah, sampai ia (isterinya) mandi karena darah haidnya. Sementara qira’at yathurna meskipun menunjukkan, bahwa batas keharaman tersebut adalah sampai berhentinya darah haid, akan tetapi kalau dikaitkan dengan rangkaian selanjutnya dalam ayat tersebut, yaitu faida tatahharna yang maknanya, sampai mereka bersuci dengan cara mandi, maka jadilah kedua ketentuan hukum tersebut (berhenti dari darah haid dan bersuci dengan cara mandi) menjadi batas keharaman dalam kasus dimaksud oleh ayat.
Dalam pada itu, Imam Abu Hanifah berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan wa laa taqrabuuhunna hatta yathurna dalam ayat tersebut yaitu, janganlah kamu bersetubuh dengan mereka, sampai mereka suci, dalam arti telah berhenti dari darah haid mereka. Dengan demikian , para suami dibolehkan bersetubuh dengan isteri mereka, setelah darah haid mereka berhenti.

b. Surat al-Maidah ayat 6.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(6)

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. ”(QS. Al-Maidah : 6)

Ayat di atas menjelaskan, bahwa seseorang yang mau melaksanakan shalat jika dalam keaadaan berhadas, diwajibkan untuk berwudu. Adapun caranya yaitu, di mulai dengan mencuci muka, kemudian mencuci dua tangan sampai siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki sampai dua mata kaki.
Sementara itu, para ulama berbeda pendapat tentang hal ini, karena adanya dua versi qira’at menyangkut hal ini. Ibn kasir hamzah, dan Abu ‘Amr membaca :wa arjulikum. Nafi’, Ibn ‘Amir, dan al-Kisa’i, membaca wa arjulakum. Sementara ‘Ashim riwayat Syu’bah, membaca wa arjulikum, sedangkan ‘ashim riwayat Hafsh, membaca wa arjulakum.
Qira’at wa arjulakum menurut maknanya menunjukkan, bahwa kedua kaki ( dalam berwudu ) wajib dicuci, yang dalam hal ini ma’thuf kepada faghsiluu wujuuhakum. Sementara qiraat wa arjulikum menurut maknanya menunjukkan, bahwa kedua kaki(dalam berwudu) hanya wajib diusap dengan air, yang dalam hal ini ma’thuf kepada wamsahuu biru’uusikum.
Jumhur ulama cenderung memilih qira’at wa arjulakum. Dengan demikian, mereka berpendapat, bahwa dalam berwudu kedua kaki wajib dicuci, dan tidak cukup diusap dengan air.
Di dalam Tafsir at-Thabari diterangkan bahwa, Ahli hura’ berbeda pendapat tentang bacaan arjulakum, membaca arjulakum dengan harkat fathah karena ‘athaf pada aidiyakum dengan makna membasuh kedua kaki. Adapun bacaan dengan menkasrah pada kalimat arjulikum dengan alasan ‘athaf pada biru’usikum, yang mengandung makna hanya mengusap dengan tanpa membasuhnya.
Dalam ayat tersebut Allah SWT membatasi kaki sampai dengan mata kaki, sebagaimana halnya membatasi tangan sampai dengan siku. Hal ini menunjukkan bahwa dalam berwudu, kedua kaki wajib dicuci sebagaimana diwajibkannya mencuci kedua tangan.
Para ulama dalam menentukan makna arjulikum atau arjulakum, tidak mencukupkan dengan hanya dengan pendekatan bahasa, akan tetapi juga didukung oleh beberapa hadis dan riwayat yang berkaitan atau yang berhubungan dengan hukum makna arjulikum atau arjulakum. Sebagaimana yang dikutib oleh berbagai mufasir dalam menentukan makna-makna yang berkaitan dengan ahkam al-Qur’an.
Selanjutnya, at-Thabari menguraikan di dalam tafsirnya perihal memberikan makna arjulakum yang berarti membasuh didukung oleh beberapa riwayat dan hadis :
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib dan Ibnu Waqi’, dari Ibnu Irdis, ia berkata “Aku telah memdengar Abi, dari Hammad, dari Ibrahim, beerkaitan dengan makna firman Allah, “فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ“, bermakna seruan supaya membasuh. Ungkapan seperti ini tidak hanya satu, akan tetapi diungkapkan oleh at-Thabari dengan sangat banyak dari berbagai jalur sanad.
Kemudian ada beberapa hadis menurut para ulama hadis yang berstandar sahih mendukung makna membasuh kaki di dalam berwudhu :”Sempurnakanlah wudhu kalian, celakalah bagi tumit yang tidak dibasuh karena akan dibakar oleh neraka”.
Kemudian di dalam mendukung makna mengusap, juga didukung oleh beberapa riwayat dan hadis.”Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dari Jabir, dari Isma’il, makna arjulikum adalah mengusap”.
Dari uraian di atas tampak dengan jelas, bahwa perbedaan qira’at dalam hal ini, dapat menimbulkan perbedaan istinbath hukum, baik dalam cara istinbath maupun ketentuan hukum yang diistimbathkan.
Qira’at wa arjulakum dipahami oleh jumhur ulama dengan menghasilkan ketentuan hukum, bahwa dalam berwudu diwajibkan mencuci kedua kaki. Sementara qira’at versi lainnya wa arjulikum dipahami oleh sebagian ulama dengan menghasilkan ketentuan hukum, bahwa dalam berwudu tidak diwajibkan mencuci kedua kaki, akan tetapi hanya diwajibkan mengusapnya (dengan air).
Dalam hal ini ath-Thabari berpendapat, bahwa apabila seseorang berwudhu dengan tanpa harus membasuh kaki dalam berwudhu, cukup hanya dengan mengusapnya. Intinya menurut ath-Thabari membasuh kaki dengan air hanya dihukumi sunah saja tidak wajib.

c. Surat al-Maidah Ayat 89
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(89)
Artinya : “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)” (Al-Maidah 89).

Ahli qurra’ berbeda pendapat tentang bacaan ‘aqqattumul aimaan, kalau dibaca dengan mentasdid qaf bermakna kamu meminta sumpah dan menolaknya. Selanjutnya dita’wilkan dengan “Wahai orang-orang mu’min Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja pada hati kalian.
Adapun bacaan aaqattumul aiman dengan tanpa tasdid qaf, bermakna kalian memotong (menyalahi) sumpah itu padahal hati kalian bersungguh-sungguh dalam bersumpah. Ibnu Jarir dalam hal ini memilih bentuk qiraa’h yang mentakhfif qaf (aqattumul aiman).
Bacaan dengan mentasdid qaf merupakan kalimat yang berwazan fa’’ala, adapun bacaan dengan tanpa tasdid pada qaf akan tetapi dengan memanjangkan ‘ainnya merupakan bentuk kalimat berwazan faa’ala.
Dari berbedaan qira’ah ini menyebabkan perbedaan faham dan lahirnya hukum yang beragam. Orang yang membaca dengan mentasdid Qaf tersebut bermakna kesungguhan atau kesenggajaan, sebagaimana riwayat dari mujahid bahwa makna ‘aqqattum adalah kesenggajaan.
Selanjutnya ada riwayat dari al-Hasan, Sya’bi, dan Abi Malik makna ‘aqqattum adalah suatu hal yang disenggaja atau ditekadkan dan wajib atasnya membayar kifarat. Yang selanjutnya dita’wilkan oleh Ibnu Jarir yaitu kafaratnya dengan memberikan makan kepada sepuluh fakir miskin.
Kewajiban membayar kifarat (denda) alternativ yang ditawarkan oleh ayat tersebut berupa memberikan makan kepada fakir miskin atau dengan menjalankan puasa tiga hari.

ANALISIS DAN KESIMPULAN
Dari berbagai permasalahan yang muncul dari sebuah sebab berbedaan qira’ah yang tersebut di atas menunjukkan keunukan dan yang luar biasa dari ayat-ayat al-Qur’an.
Secara garis besar permasalahan-permasalah yang muncul dari al-Qur’an justru melahirkan pemikiran baru yang lebih dinamis dan fleksibel, dan lebih berguna bagi umat manusia khususnya umat islam dalam kondisi-kondisi tertentu. Sehingga dalam menjalankan syariat hokum islam lebih mudah untuk dilaksanakan oleh jajaran masyarakat islam, tidak terikat oleh suatu faham-faham ataupun kemandulan dalam system ajaran.
Perbedaan-perbedaan itu tidak selayaknya dijadikan salah satu alasan terjadinya perpecah-belahan umat islam, akan tetapi justru supaya menjadi salah satu bentuk kemudahan umat islam dalam menjalankan syariat islam.
Setiap faham yang muncul dari sebab adanya keragaman qira’ah, yang selanjutnya melahirkan embrio hukum tersebut pada dasarnya dilandasi dengan sumber-sumber yang akurat dan terpercaya. Oleh karena itu sudak selayaknya kita mengakhiri tragedi terpecah-belahnya umat, dengan cara mengaplikasikan hukum islam secara praktis dan dinamis serta disesuikan dengan situasi dan kandisi yang berlangsung pada saat itu.
Selanjutnya, apabila melihat terhadap perbedaan yang terjadi pada kasus hukum tentang hubungan seks pada wanita yang berhenti haid. Apakah wanita tersebut harus bersuci dengan cara mandi, ataukah hanya sebatas berhentinya darah haid.
Kedua hukum tersebut pada satu sisi bisa akan berguna, pada sisi lain kurang begitu berguna, tergantung dari sudut apa kita melihat.
Contoh kasus misalkan, ada seorang pria yang libido (hawa seksnya berlebihan), setelah melihat istrinya sudah berhenti haid akan lebih berguna dalam berhubungan seks tidak harus menunggu sampai istri bersuci secara total (mandi), sebab apabila seorang pria yang sudah masuk hawa seksnya tidak akan bisa menahan diri. Pada sisi lain seorang pria yang nafsunya timbul dan tidak langsung disalurkan bisa menyebabkan efek negativ pada dirinya dan orang lain.
Sebaliknya, bagi kaum pria yang hawa seksnya tidak bergejolak, alangkah baiknya jika sang istri bersuci secara tatal (mandi) sebelum melakukan hubungan seks. Karena hal itu lebih baik, sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya Allah lebih menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.
Kemudian, kasus selanjutnya tentang hukum membasuh atau mengusap kaki setiap berwudhu. Bila dikaji dari segi ekonomi mungkin lebih efektif hanya diusap saja tidak harus dibasuh, karena hal itu lebih menguntungkan sebab tidak pemborosan air.
Akan tetapi jika melihat pada aspek situasi dan kondisi tertentu, masing-masing faham tersebut akan berfaedah. Contohnya seperti terjadi kemarau panjang dan kesulitan mencari air untuk kebutuhan sehari-hari, mungkin lebih baik apabila memilih faham yang hanya mengusap kaki. Sebaliknya, pada musim penghujan dan gambang mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari alangkah lebih baik jika memilih faham yang membasuh kaki, karena hal itu akan lebih berguna yaitu untuk menjaga kesehatan. Sebab pada musim hujan kaki cenderung kurang bersih, dan gambang terserang kuman (firus) apabila tidak bersih.
Kemudian, pada kasus yang lain tentang orang yang melanggar sumpah, apakah berpuasa atau memberikan santunan terhadap fakir miskin.
Jika melihat dari sisi ekonomi dan sosial di masyarakat, apabila seseorang melanggar sumpah dan dikenakan kafarat, sebaiknya melihat kondisi masyarakat sekelilingnya.
Bilamana masyarakat disekitar kita masih banyak yang miskin, alangkah baiknya denda kafarat tersebut berupa santuan terhadap fakir miskin. Mungkin hal tersebut akan lebih bermanfaat bagi umat manusia.
Akan tetapi, jika lingkungan masyarakat sekitar dalam taraf ekonomi yang kecukupan, alangkah lebih mulya apabila kafarat tersebut dibayar dengan berpuasa.
Setelah melihat berbagai keragaman faham yang disebabkan oleh berbedaan qira’ah yang selanjutnya melahirkan hukum yang berlainan anatara satu dan lainnya. Ath-Thabari dalam memberikan komentar dan pilihan pada qira’ah-qira’ah, di dasari beberapa hal yang di antaranya :
1. Melihat kedudukan kalimat baik dari segi nahwu dan sharaf, yang selanjutnya dimaknai dengan menggunakan pendekatan bahasa, berikutnya dianalisis dengan menggunakan pendekatan ta’wil secara lughawiyyah
2. Melihat dari segi riwayat-riwayat yang sangat beragam di dalam tafsirnya, yang selanjutnya mentarjih riwayat-riwayat tersebut.

Selanjutnya, jika melihat tafsirnya dalam hal fiqh ath-Thabari tidak terkontaminasi dengan madzhab-madzhab tertentu atau membela salah satu madzhab tertentu, sebagaimana yang terjadi pada mufasir-mufasir sesudahnya. Justru ath-Thabari mencetuskan madhzhab fiqh yang mandiri, yang menggunakan pendekatan bahasa, ta’wil dan riwayah.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Qur’an al-Karim

Abu al-Faraj dan Khalid bin Muhammad, Taqrib al-Ma’ani fi Sarh hirz al-amani fi al-Qira’at as-Sab’, Saudi : Dar az-Zaman, 2003, cet ke-5

Adh-Dhahabi, Muhammad, Tafsir wa al-Mufassirun, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), Jilid 1

Al-Qartubi, Abi Muhammad Makki al-Qaisi al-Qairawani, Kitab at-Tabshirah fi al-Qira’at as-Sab’, (Badnad: Dar as-Shahabah, tth.), t.cet

Al-Qatan, Manna’, Mabahis fi Ulum al-Qur’an, (tt.,: tpn., tth.), cet. ke-3

Al-Qurtubi, Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Ahmad al-Anshari, al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, (Bairut : Dar al-Fikr, 1998), t.cet.

Al-Zuhaili, Wahbah, Tafsir al-Munir, Damaskus : Dar al-Fikr, 1991, cet ke-1

Ash-Shabuni, Muhammad, at-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: ‘Alim al-Kutub, 1985), cet. ke-1

At-Thabari, Ibnu Jarir, Jami’ al-Bayan, (Bairut : Dar al-Fikr, 2001), t.cet.

Az-Zarqani, Muhammad Abdu al-‘Adhim, Manahilu al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, (Bairut: Dar al-Fikr, 1988), t. cet

Djalal, HA Abdul., Ulummul Qur’an, (Surabaya : Dunia Ilmu, 2000), cet. ke-2

Hasanuddin, AF, Perbedaan Qira’ah dan Pengaruhnya Terhadap Istinbath Hukum Dalam al-Qur’an, (Jakarta: Raja Grafindo, 1995), cet. ke- 1

Ibnu Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘adzim, Kairo : Dar al-Hadis, 2002, t.cet.

Ibnu Mujahid, , Kitab as-Sab’at fi al-Qira’at, Mesir: Dar al-Ma’arif, t.th., t.cet.

Muhammad, al-Hafidz Abi al-Khair bin Muhammad, an-Nasy fi al-Qira’at al-‘Asyar, Mesir : ttp., tth., t.cet.

Ar-Razi, Mafatih al-Gaib, (Bairut : Dar al-Fikr, 1990), t.cet.

Shamsuddin bin Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad ad-Dawuri, Thabaqat al-Mufassirin, (Bairut: Dar al-Kutub ‘Alamiyyah, tth.), Jilid 2

Thameem Ushama, Methodologies of the Qur’anic Exegesis (tarjamah) (Jakarta: Radar Jaya, 2000), cet. ke-1

Zakiyah Darajat, Kesehatan Mental, (Jakarta : CV Haji Masagung, 1990), cet. ke-6

_______ , Ilmu Jiwa dan Agama, (Jakarta : Bulan Bintan, 1993), cet. ke-14

ENSIMINASI BUATAN PADA HEWAN DAN MANUSIA

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

 

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

 

 

A.  Latar Belakang Masalah

Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuktidak boleh berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam menggapai karunia Allah SWT. Demikian halnya di ntara pancamaslahat yang diayomi oleh maqashid asy-syari’ah (tujuan filosofis syariah Islam) adalah hifdz an-nasl (memelihara fungsi dan kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi umat manusia.

Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi (QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk kesulitan reproduksi manusia dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dengan menggunakannya sesuai kaedah ajaran-Nya.

Teknologi bayi tabung dan inseminasi buatan merupakan hasil terapan sains modern yang pada prinsipnya bersifat netral sebagai bentuk kemajuan ilmu kedokteran dan biologi.  Sehingga meskipun memiliki daya guna tinggi, namun juga sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan kesalahan etika bila dilakukan oleh orang yang tidak beragama, beriman dan beretika sehingga sangat potensial berdampak negatif dan fatal. Oleh karena itu kaedah dan ketentuan syariah merupakan pemandu etika dalam penggunaan teknologi ini sebab penggunaan dan penerapan teknologi belum tentu sesuai menurut agama, etika dan hukum yang berlaku di masyarakat.

Seorang pakar kesehatan New Age dan pemimpin redaksi jurnal Integratif Medicine, Dr. Andrew Weil sangat meresahkan dan mengkhawatirkan penggunaan inovasi teknologi kedokteran tidak pada tempatnya yang biasanya terlambat untuk memahami konsekuensi etis dan sosial yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, Dr. Arthur Leonard Caplan, Direktur Center for Bioethics dan Guru Besar Bioethics di University of Pennsylvania menganjurkan pentingnya komitmen etika biologi dalam praktek teknologi kedokteran apa yang disebut sebagai bioetika.

Menurut John Naisbitt dalam High Tech – High Touch (1999) bioetika bermula sebagai bidang spesialisasi paada 1960-an sebagai tanggapan atas tantangan yang belum pernah ada, yang diciptakan oleh kemajuan di bidang teknologi pendukung kehidupan dan teknologi reproduksi. Inseminasi buatan ialah pembuahan pada hewan atau manusia tanpa melalui senggama (sexual intercourse). Ada beberapa teknik inseminasi buatan yang telah dikembangkan dalam dunia kedokteran, antara lain adalah:

Pertama; Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro (tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer di rahim istri. Kedua; Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil sperma suami dan ovum istri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan, maka segera ditanam di saluran telur (tuba palupi) Teknik kedua ini terlihat lebih alamiah, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di tuba palupi setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan seksual.

Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan Islam termasuk masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya seara spesifik di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini hendak dikaji menurut Hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun, kajian masalah inseminasi buatan ini seyogyanya menggunakan pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar.

Pembahasan dan pengkajian seputar inseminasi pada hewan dan manusia sudah cukup lama di kenal pada  dunia kedokteran dan pendidikan.  Yang secara keseluruhan memiliki nuansa kajian yang beragam dan subyektif, sehingga layak kiranya jika penulis kembali menelaah ulang seputar inseminasi buatan pada hewan dan manusia.  Kemudian penulis tuangkan dalam sebuah judul makalah yang berjudul “ ENSIMINASI BUATAN PADA HEWAN DAN MANUSIA”

 

 

B.     Identifikasi Masalah

Pembahasan seputar ensiminasi buatan pada hewan dan manusia merupakan suatu bahasan yang sangat riskan dengan permasalahan-permasalah, bahkan dari satu bahasan akan muncul berbagai masalah baru.  Akan tetapi secara umum ensiminasi buatan memiliki masalalah-masalah sebagi mberikut :

1.      Tekanan ekonomi di era global berdampak pada persaingan produk, sehingga mereka perlu membuat menu siap saji, hewan tidak lagi diperanakkkan secara normal sebab memakan waktu yang lama, sehingga perlu motode yang lain yaitu ensiminasi buatan pada hewan

2.      Kemajuan Tehnologi akibat dari perkembangan globalisasi membentuk karakter orang yang praktis dan menguntungkan, sehingga dalam urusan peranakan tidak mau capek, mereka menginginkan yang instant, sehingga mereka mengunakan ensiminasi buatan pada manusia.

3.      Wanita dan pria modern karena lingkungan mereka dipenuhi berbagai tekanan dan persaingan hidup, berakibat sulit memiliki keturunan.  Sehingga perlu membuat langkah baru yaitu ensiminasi buatan.

4.      Dunia kedokteran dituntut oleh naluri keilmuan membuat inovasi baru yang mampu dipasarkan dan berguna untuk masyarakat modern, yang mengesampingkan nilai etika dan akidah.  Sehingga mereka merumuskan dan meriset modeto baru yaitu ensiminasi buatan pada hewan dan manusia.

5.      Para pemuka agama yang setiap langkah berangkat dari keyakinan, menjadikan mereka bersikap fundamental pada kemajuan tehnologi modern bahkan menolak kemajuan di antaranya menemuan baru tentang ensiminasi buatan pada hewan dan manusia.  Mereka berusaha mencari alasan-alasan (dalil ) untuk menolak kemajuan teknologi modern.

6.      Masyarakat dari berbagai disiplin interdisipliner menerima kemajuan dengan sangat arogan, sehingga menjadikan mereka perselisih paham seputar ensiminasi buatan, yang berakibat perpecahan komonitas sosial.

7.      Budaya kuno dan konsep tawadhu’ pada masyarakat islam membentuk karakter  patuh pada hukum salafi yang berimbas pada penolakan modernitas, padalah mereka hidup di zaman modern.  Sehingga pelaksanaan ensiminasi buatan mereka tolak mentah-mentah secara pemikiran anarkis.

C.     Pembatasan Masalah

Jika memperhatikan identifikasi masalah sebagaimana tersebut di atas, tentu perlu membuat kajian yang cukup memakan waktu yang lama dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.  Sehingga dalam kajian ini penulis membatasi kajian hanya pada bahasan seputar landasan dasar atau alasan-alasan ( dalil ) pokok tentang inseminasi buatan pada hewan dan manusia.

 

D.    Rumusan Masalah

Pokok bahasan yang penulis ajukan sebagaimana tertuang di dalam pembatasan masalah, penulis rumuskan sebagai berikut ?

1.      Apakah yang menjadi lansan terbentuknya ensiminasi buatan ?

2.      Kenapa para tokoh agamawan menolak teori ensiminasi buatan ?

3.      Alasan (dalil) yang bagaimanakah agar sesuai dengan era modern seputar ensiminasi buatan ini ?

E.     Tujuan Penulisan

Dengan mengadakan penelitian dan kajian seputar ensiminasi buatan ditinjau dari aspek landasan pokok, supaya mengetahuai beberapa hal sebagai berikut :

1.      Supaya mengetahui landasan dalil para ilmuwan dalam merumuskan penemuan ensiminasi buatan pada hewan dan manusia

2.      Supaya mengetahui alasan para pemuka agama yang menolak keajuan tehnologi penemuan ensiminasi buatan pada hewan dan manusia.

3.      Supaya memahami dalil yang sesuai dengan penemuan ensiminasi buatan pada hewan dan manusia di era modern.

 

F.      Kerangka Pemikiran

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang sangat besar. Manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan rasa, karsa dan daya cipta yang dimiliki. Salah satu bidang iptek yang berkembang pesat dewasa ini adalah teknologi reproduksi. Teknologi reproduksi adalah ilmu reproduksi atau ilmu tentang perkembangbiakan yang menggunakan peralatan serta prosedur tertentu untuk menghasilkan suatu produk (keturunan).

Salah satu teknologi reproduksi yang telah banyak dikembangkan adalah inseminasi buatan. Inseminasi buatan merupakan terjemahan dari artificial insemination yang berarti memasukkan cairan semen (plasma semen) yang mengandung sel-sel kelamin pria (spermatozoa) yang diejakulasikan melalui penis pada waktu terjadi kopulasi atau penampungan semen.

Inseminasi buatan yang dilakukan untuk menolong pasangan yang mandul, untuk mengembang biakan manusia secara cepat, untuk menciptakan manusia jenius, ideal sesuai dengan keinginan , sebagai alternative bagi manusia yang ingin punya anak tetapi tidak mau menikah dan untuk percobaan ilmiah

Para ahli Ushul fiqh telah membahas maqasid syari’ah, yakni untuk mewujudkan kemaslahatan umat yang berpangkal dari misi Islam “menjaga rahmad bagi alam semesta”. Memindahkan bahkan mencampurkan sperma pada hewan dan hewan lain atau pada seseorang terhadap orang lain ini merupakan salah satu bahasan dari lima pokok ajaran Islam yang sangat perlu diperhatikan, yakni mengenai keturunan.

Pada dasarnya pemeliharaan keturunan adalah demi menjaga ketetiban umat. Disini akan tampak perbedaan antara tradisi kelahiran manusia dan kelahiran hewan, hewan tidak ada permasalahan siapa ayah serta silsilah, tetapi manusia senantiasa memerlukan kejelasan baik pertanggungjawabannya di dunia maupun di akherat nanti.

Hubungan seks pada dasarnya adalah ibadah sehingga proses dan praktiknya pun harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan Islam, yakni dalam perkawinan yang syah, sehingga ada pertanggungjawaban antara suami dan istri. Dalam pembicaraan Hukum Islam antara “sah” dan “haram” itu terkadang bisa berjalan bersama-sama.

Sebagai contoh adalah mengenai rahim sewaan, mungkin akan ada yang berpendapat melonggarkan konsep radha’ah (susuan). Namun dalam Islam, rahim adalah sesuatu yang sangat terhormat, sehingga perbuatan seperti itu tetap melanggar ketentuan Islam. Contoh lain adalah salat degan mengenakan pakaian ghasab atau hasil curian. Dalam kasus ini, shalat seseorang adalah sah, namun perbuatannya haram. Dalam istilah biologi istilah memindahkan sperma biasa disebut dengan inseminasi dan pencampuran biasa disebut bank nutfah.

 

 

G.    Sistematika Penulisan

Sistematika ini merupakan gambaran keseluruhan dari makalah ini, sehingga akan mudah untuk dipahami. Sistemaika ini penulis susun menjadi lima bab, dan dari bab-bab tersebut dibagi menjadi sub bab.  Adapun gambaran bab dan sub bab dari makalah ini secara kesuluruahannya sebagai berikut :

Bab pertama, pendahuluan, meliputi : latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, kerangka pemikiran dan sistematika pembahasan. 

Selanjutnya, dalam bab kedua penulis memaparkan tentang eksistensi ensiminasi buatan, meliputi : definisi ensiminasi, teknik inseminasi dan  sumber sperma.

Kemudian, pada bab ketiga mengenai tentang ensiminasi buatan ditinjau dari speknya.  Dalam bab ini memiliki sub bab, di antaranya : inseminasi buatan ditinjau dari aspek dampaknya, ensiminasi ditinjau dari aspek sosial dan ensiminasi ditinjau dari aspek hukum.

Kemudian, pada bab empat yang merupakan inti isi makalah ini yang memuat tentang landasan dalil ensiminasi buatan.  Pada bab ini penulis menuangkan sub bab sebagai berikut : landasan dalil pembolehan insiminasi buatan, pada manusia, pada hewan dan landasan dalil pelarangan insiminasi buatan.

Akhirnya, penulis tuntaskan pada bab kelima, meliputi simpulan dan saran-saran.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  II

EKSISTENSI ENSIMINASI BUATAN

 

 

A.  Definisi Ensiminasi

Inseminasi bauatan merupakan terjemahan dari artificial insemination . Artificial artinya buatan ataua tiruan , sedangkan insemination berasal dari kata latin . Inseminatus artinya pemasukan atau penyampaian . artificial insemination adalah penghamilan atau pembuahan buatan . Dalam kamus ﺢﻴﻘﻠﺗ ﻰﻋﺎﻨﺼﻟﺍ , seperti dalam kitab al – fatawa karangan mahmud syaltut . Jadi, insiminasi buatan adalah penghamilan buatan yang dilakukan terhadap wanita dengan cara memasukan sperma laki-laki ke dalam rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter , istilah lain yang semakna adalah kawin suntik , penghamilan buatan dan permainan buatan ( PB ).

Sedangkan yang dimaksud dengan bayi tabung ( Test tubebaby ) adalah bayi yang di dapatkan melalui proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim sehingga terjadi embrio dengan bantuan ilmu kedokteran . Dikatakan sebagai kehamilan , bayi tabung karena benih laki – laki yang disedut dari zakar laki-laki disimpan dalam suatu tabung.  Untuk menjalani proses pembuahan yang dilakukan di luar rahim, perlu disediakan ovom ( sel telur dan sperma ).

Jika saat ovulasi ( bebasnya sel telur dari kandung telur ) terdapat sel – sel yang masak maka sel telur itu di hisab dengan sejenis jarum suntik melalui sayatan pada perut, emudian di taruh dalam suatu taqbung kimia , lalu di simpan di laboratorium yang di beri suhu seperti panas badan seorang wanita . Kedua sel kelamin tersebut bercampur ( zygote ) dalam tabung sehingga terjadinya fertilasi. Zygote berkembang menjadi morulla lalu dinidasikan ke dalam rahim seorang wanita. Akhirnya wanita itu akan hamil . Inseminasi permainan ( pembuahan) buatan telah dilakukan oleh para sahabat nabi terhadap pohon korma .  Bank sperma atau di sebut juga bank ayah mulai tumbuh pada awal tahun 1970.

 

B.  Teknik Inseminasi

            Menurut ilmu kedokteran ensiminasi memiliki dua metode atau teknik, yaitu :

  1. Teknik IUI (Intrauterine Insemination) Teknik IUI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan melalui leher rahim hingga ke lubang uterine (rahim).
  2. Teknik DIPI (Direct Intraperitoneal  Insemination) Teknik DIPI telah dilakukan sejak awal tahun 1986. Teknik DIPI dilakukan dengan cara sperma diinjeksikan langsung ke peritoneal (rongga peritoneum).

Teknik IUI dan DIPI dilakukan denganbmenggunakan alat yang disebut bivalve speculum, yaitu suatu alat yang berbentuk seperti selang dan mempunyai 2 cabang, dimana salah satu ujungnya sebagai tempat untuk memasukkan/menyalurkan sperma dan ujung yang lain dimasukkan ke dalam saluran leher rahim untuk teknik IUI, sedangkan untuk teknik DIPI dimasukkan ke dalam peritoneal. Jumlah sperma yang disalurkan/diinjeksikan kurang lebih sebanyak 0,5–2 ml. Setelah inseminasi selesai dilakukan, orang yang mendapatkan perlakuan inseminasi tersebut harus dalam posisi terlentang selama 10–15 menit.

 

C.  Sumber Sperma

Ada 2 jenis sumber sperma yaitu:

  1. Dari sperma suami.  Inseminasi yang menggunakan air mani suami hanya boleh dilakukan jika jumlah spermanya rendah atau suami mengidap suatu penyakit.  Tingkat keberhasilan AIH hanya berkisar 10-20 %. Sebab-sebab utama kegagalan AIH adalah jumlah sperma suami kurang banyak atau bentuk dan pergerakannya tidak normal.
  2. Sperma penderma.  Inseminasi ini dilakukan jika suami tidak bisa memproduksi sperma atau azoospermia atau pihak suami mengidap penyakit kongenital[4] yang dapat diwariskan kepada keturunannya.

Penderma sperma harus melakukan tes kesehatan terlebih dahulu seperti tipe darah, golongan darah, latar belakang status physikologi, tes IQ, penyakit keturunan, dan

bebas dari infeksi penyakit menular. Tingkat keberhasilan Inseminasi AID adalah 60-70%. Penyiapan sperma Sperma dikumpulkan dengan cara marturbasi, kemudian dimasukkan ke dalam wadah steril setelah 2-4 hari tidak melakukan hubungan seksual. Setelah dicairkan dan dilakukan analisa awal sperma, teknik “Swim-up” standar atau “Gradient Percoll” digunakan untuk persiapan penggunaan larutan garam seimbang Earle atau Medi. Cult IVF medium, keduanya dilengkapi dengan serum albumin manusia.

Dalam teknik Swim-up, sampel sperma disentrifugekan sebanyak 400 g selama 15 menit. Supernatannya dibuang, pellet dipisahkan dalam 2,5 ml medium, kemudian disentrifuge lagi. Sesudah memisahkan supernatannya, dengan hati-hati pellet dilapisi dengan medium dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37º C.  Sesudah diinkubasi, lapisan media yang berisi sperma motile dikumpulkan dengan hati-hati dan digunakan untuk inseminasi. Pada teknik Percoll, sperma dilapiskan pada Gradient Percoll yang berisi media Medi. Cult dan disentrifugekan sebanyak 500 g selama 20 menit. 90 % dari pellet kemudian dipisahkan dalam 6 ml media dan disentrifugekan lagi sebanyak 500 g selama 10 menit. Pellet sperma kemudian dipisahkan dalam 0,5 atau 1 ml medium dan digunakan untuk inseminasi.

Pemeriksaan Laboratorium Analisis Sperma dilakukan untuk mengetahui kualitas sperma, sehingga bisa diperoleh kualitas sperma yang benar-benar baik. Penetapan kualitas ekstern di dasarkan pada hasil evaluasi sampel yang sama yang dievaluasi di beberapa laboratorium, dengan tahapan-tahapan: Pengambilan sampel, Penilaian Makroskopik, Penialain Mikroskopis, Uji Biokimia, Uji Imunologi, Uji mikrobiologi, Otomatisasi, Prosedur ART, Simpan Beku Sperma.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  III

ENSIMINASI BUATAN DITINJAU DARI ASPEKNYA

 

 

A.  Inseminasi Buatan Ditinjau dari aspek Dampaknya

Menurut para ahli kedokteran, dalam pembuahan normal, antara 50.000-100.000 sel sperma, berlomba membuahi 1 sel telur. Dalam pembuahan normal, berlaku teori seleksi alamiah dari Charles Darwin, dimana sel yang paling kuat dan sehat adalah yang menang. Sementara dalam inseminasi buatan, sel sperma pemenang dipilih oleh dokter atau petugas labolatorium.

Jadi, bukan dengan sistem seleksi alamiah. Di bawah mikroskop, para petugas labolatorium dapat memisahkan mana sel sperma yang kelihatannya sehat dan tidak sehat. Akan tetapi, kerusakan genetika umumnya tidak kelihatan dari luar. Dengan cara itu, resiko kerusakan sel sperma yang secara genetik tidak sehat, menjadi cukup besar. Belakangan ini, selain faktor sel sperma yang secara genetik tidak sehat, para ahli juga menduga prosedur inseminasi memainkan peranan yang menentukan.

Kesalahan pada saat injeksi sperma, merupakan salah satu factor kerusakan genetika. Secara alamiah, sperma yang sudah dilengkapi enzim bernama akrosom [5] berfungsi sebagai pengebor lapisan pelindung sel telur. Dalam proses pembuahan secara alamiah, hanya kepala dan ekor sperma yang masuk ke dalam inti sel telur.

Sementara dalam proses inseminasi buatan, dengan  injeksi sperma, enzim akrosom yang ada di bagian kepala sperma juga ikut masuk ke dalam sel telur. Selama enzim akrosom belum terurai, maka pembuahan akan terhambat. Selain itu prosedur injeksi sperma memiliko resiko melukai bagian dalam sel telur, yang berfungsi pada pembelahan sel dan pembagian kromosom.

Keberhasilan inseminasi buatan tergantung tenaga ahli di labolatorium, walaupun prosedurnya sudah benar, bayi dari hasil inseminasi buatan dapat memiliki resiko cacat bawaan lebih besar daripada dibandingkan pada bayi normal. Penyebab dari munculnya cacat bawaan adalah kesalahan prosedur injeksi sperma ke dalam sel telur.

Hal ini bisa terjadi karena satu sel sperma yang dipilih untuk digunakan pada inseminasi buatan belum tentu sehat, dengan cara ini resiko mendapatkan sel sperma yang secara genetik tidak sehat menjadi cukup besar. Cacat bawaan yang paling sering muncul antara lain bibir sumbing, down sindrom, terbukanya kanal tulang belakang, kegagalan jantung, ginjal, dan kelenjar pankreas.

Seperti diketahui kemampuan berpikir dan bernalar membuat manusia menemukan berbagai pengetahuan baru. Pengetahuan itu kemudian digunakan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, sering pula teknologi yang kita hasilkan itu memberikan efek samping yang memberikan dampak negatif. Oleh sebab itu ada beberapa orang yang pro dan kontra terhadap teknologi tersebut.

 

B.  Ensiminasi Ditinjau dari Aspek Sosial

Posisi anak menjadi kurang jelas dalam tatanan masyarakat, terutama bila sperma yang digunakan berasal dari bank sperma atau sel sperma yang digunakan berasal dari pendonor, akibatnya status anak menjadi tidak jelas. Selain itu juga, di kemudian hari mungkin saja terjadi perkawinan antar keluarga dekat tanpa di sengaja, misalnya antar anak dengan bapak atau dengan ibu atau bisa saja antar saudara sehingga besar kemungkinan akan lahir generasi cacat akibat inbreeding. Lain halnya dengan kasus seorang janda yang ditinggal mati suaminya, dan dia ingin mempunyai anak dari sperma beku suaminya.  Hal ini dianggap etis karena sperma yang digunakan berasal dari suaminya sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah sosial, karena status anak yang dilahirkan merupakan anak kandung sendiri. 

Kasus lainnya adalah seorang wanita ingin mempunyai anak dengan inseminasi tetapi tanpa menikah, dengan alasan ingin mempunyai keturunan dari seseorang yang diidolakannya seperti artis dan tokoh terkenal. Kasus tersebut akan menimbulkan sikap tidak etis, karena sperma yang diperoleh sama halnya dari sperma pendonor, sehingga akan menyebabkan persoalan dalam masyarakat seperti status anak yang tidak jelas. Selain itu juga akan ada pandangan negatif kepada wanita itu sendiri dari masyarakat sekitar, karena telah mempunyai anak tanpa menikah dan belum bersuami.

 

C.  Ensiminasi Ditinjau Dari Aspek Hukum

Dilihat dari segi hukum pendonor sperma melanggar hukum. Contoh kasus pada bulan Juni 2002, pengadilan di Stockholm, Swedia menjatuhkan hukuman kepada laki-laki yang mengaku sebagai pendonor sperma kepada pasangan lesbian yang akhirnya bercerai. Dan diberi sanksi untuk memberi tunjangan terhadap 3 orang anak hasil inseminasi spermanya, sebesar 2,5 juta perbulan. Dalam kasus ini akan timbul sikap etis dan tidak etis.

Sikap etis timbul dilihat dari sikap pendonor sperma yang telah memberikan spermanya kepada pasangan lesbian, karena berusaha untuk membantu pasangan tersebut untuk mempunyai anak.Sedangkan sikap tidak etis muncul dari pasangan lesbian yang bercerai, karena telah menuntut pertanggungjawaban kepada pendonor sperma yang mengaku sebagai ayahnya untuk memberikan tunjangan hidup bagi ke-3 anak hasil inseminasi spermanya.

Dengan demikian maka inseminasi buatan harus berlandaskan nilai etika tertentu, karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Etika diperlukan untuk menentukan arah perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis, sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB  IV

LANDASAN DALIL ENSIMINASI BUATAN

 

 

A.     Landasan Dalil Pembolehan Insiminasi Buatan

1.  Pada Manusia

Hadirnya seorang anak merupakan tanda dari cinta kasih pasangan suami istri, tetapi tidak semua pasangan dapat melakukan proses reproduksi secara normal. Sebagian kecil diantaranya memiliki berbagai kendala yang tidak memungkinkan mereka untuk memiliki keturunan.  Inseminasi buatan pertama kali dilakukan pada manusia dengan menggunakan sperma dari suami telah dilakukan secara intravagina pada tahun 1700 di Inggris.

Sophia Kleegman dari Amerika Serikat adalah salah satu perintis yang menggunakan inseminasi buatan dengan sperma suami ataupun sperma donor untuk  kasus infertilitas. Pada wanita kendala ini dapat berupa hipofungsi ovarium, gangguan pada saluran reproduksi dan rendahnya kadar progesterone. Sedangkan pada pria berupa abnormalitas, spermatozoa kriptorkhid, azoospermia dan rendahnya kadar testosterone..

Selain untuk memperoleh keturunan, faktor kesehatan juga merupakan fokus utama penerapan teknologi reproduksi. Sebagai contoh kasus: Di Colorado Amerika Serikat pasangan Jack dan Lisa melakukan program inseminasi, bukan semata-mata untuk mendapatkan keturunan tetapi karena memerlukan donor bagi putrinya Molly yang berusia 6 tahun yang menderita penyakit fanconi anemia, yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh tidak berfungsinya sumsum tulang belakang sebagai penghasil darah. Jika dibiarkan akan menyebabkan penyakit leukemia.

Satu-satunya pengobatan adalah melakukan pencangkokan sumsum tulang dari saudara sekandung, tetapi masalahnya Molly anak tunggal. Yang dimaksud inseminasi disini diterapkan untuk mendapatkan anak yang bebas dari penyakit fanconi anemia agar dapat diambil darahnya sehingga diharapkan akan dapat merangsang sumsum tulang belakang Molly untuk memproduksi darah.

Inseminasi buatan yang dilakukan untuk menolong pasangan yang mandul , untuk

mengembang biakan manusia secara cepat, untuk menciptakan manusia jenius, ideal sesuai dengan keinginan , sebagai alternative bagi manusia yang ingin punya anak tetapi tidak mau menikah dan untuk percobaan ilmiah

 

Inseminasi buatan dilihat dari asal sperma yang dipakai dapat dibagi dua :

a.       Inseminasi buatan dengan sperma sendiri atau AIH ( artificial insemination husband)

b.      Inseminasi buatan yang bukan sperma suami atau di sebut donor atau AID (artificial insemination donor) untuk inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri di bolehkan bila keadaannya benar- benar memaksa pasangan itu untuk melakukannya dan bila tidak akan mengancam keutuhan rumah tangganya ( terjadinya perceraian ) sesuai dengan kaidah usul fiqh …………. . ﺔﺟﺎﺤﻟﺍ ﻝﺰﻨﺗ ﺔﻟﺰﻨﻣ ﺓﺭﻭﺮﻀﻟﺍ “ hajat itu keperluan yang sangat penting dilakukan seperti keadaan darurat ”.

 

Adapun tentang inseminasi buatan dengan bukan sperma suami atau sperma donor para ulama mengharamkannya, seperti pendapat Yusuf Al – Qardhawi yang menyatakan bahwa islam juga mengharamkan pencakukan sperma ( bayi tabung ). Apabila pencakukan itu bukan dari sperma suami. Mahmud Syaltut mengatakan bahwa penghamilan buatan adalah pelanggaran yang tercela dan dosa besar, setara dengan zina, karena memasukan mani’ orang lain ke dalam rahim perempuan tanpa ada hubungan nikah secara syara’ , yang dilindungi hukum syara’ .

Pada inseminasi buatan dengan sperma suami sendiri tidak menimbulkan masalah pada semua aspeknya, sedangkan inseminasi buatan dengan sperma donor banyak menimbulkan masalah di antaranya masalah nasab .

 

2.  Pada Hewan

Sedangkan hukum inseminasi buatan pada hewan dan hasilnya sebagaimana yang sering orang lakukan juga harus diddudukkanmasalahnya. Pada umumnya, hewan baik yang hidup di darat, air dan udara, adalah halal dimakan dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kesejahteraan hidupnya, kecuali beberapa jenis makanan/hewan yang dilarang dengan jelas oleh agama.

Kehalalan hewan pada umumnya dan hewan ternak pada khususnya adalah berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah:29, yang menyatakan bahwa semua yang ada di planet bumi ini untuk kesejahteraan manusia. Dan juga surat Al-Maidah:2, yang menyatakan bahwa semua hewan ternak dihalalkan kecuali yang tersebut dalam Al-An’am:145, An-Nahl:115, Al-Baqoroh:173 dan Al-Maidah:3.

Ketiga surat dan ayat yang pertama tersebut hanya mengharamkan 4 jenis makanan saja, yaitu bangkai, darah, babi dan hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Sedangkan surat dan ayat yang disebut terakhir mengharamkan 10 jenis makanan, yaitu 4 macam makanan yang tersebut di atas ditambah 6, yakni: 1. Hewan yang mati tercekik, 2. Yang mati dipukul, 3. Yang mati terjatuh, 4. Yang mati ditanduk, 5. Yang mati diterkam binatang buas, kecuali yang sempat disembelih dan 6. Yang disembelih untuk disajikan pada berhala.

Mengenai hewan yang halal dan yang haram, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, yaitu:

  1. ulama yang hanya mengharamkan 10 macam makanan/hewan yang tersebut dalam Al-Maidah: 3, sebab ayat ini termasuk wahyu terakhir yang turun. Mahmud Syaltut, mantan Rektor Univ. Al-Azhar mendukung pendapat ini.
  2. Ulama hadits menambah beberapa larangan berdasarkan hadits Nabi, yaitu antara lain: semua binatang buas yang bertaring, semua burung yang berkuku tajam, keledai peliharaan/jinak dan peranakan kuda dengan keledai (bighal).
  3. Ulama fiqih/mazhab menambah daftar sejumlah hewan yang haram dimakan berdasarkan ijtihad, yaitu antara lain: semua jenis anjing termasuk anjing hutan dan anjing laut, rubah, gajah, musang/garangan, burung undan, rajawali, gagak, buaya, tawon, semua jenis ulat dan serangga.
  4. Rasyid Ridha, pengaran Tafsir Al-Manar berpendapat bahwa yang tidak jelas halal/haramnya berdasarkan nash Al-Qur’an itu ada dua macam:

1.      Semua jenis hewan yang baik, bersih dan enak/lezat (thayyib) adalah halal.

2.      Semua hewan yang jelek, kotor dan menjijikan adalah haram. Namun kriteria baik, bersih, enak, menarik atau kotor, jelek dan menjijikan tidak ada kesepakatan ulama di dalamnya. Apakah tergantung selera dan watak masing-masing orang atau menurut ukuran yang umum.

Mengembangbiakkan dan pembibitan semua jenis hewan yang halal diperbolehkan oleh Islam, baik dengan jalan inseminasi alami (natural insemination) maupun inseminasi buatan (artificial insemination). Dasar hokum pembolehan inseminasi buatan ialah:

Pertama; Qiyas (analogi) dengan kasus penyerbukan kurma. Setelah Nabi Saw hijrah ke Madinah, beliau melihat penduduk Madinah melakukan pembuahan buatan (penyilangan/perkawinan) pada pohon kurma. Lalu Nabi menyarankan agar tidak usah melakukan itu, kemudian ternyata buahnya banyak yang rusak. Setelah hal itu dilaporkan pada Nabi, beliau berpesan : “lakukanlah pembuahan buatan, kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian.”

Oleh karena itu, kalau inseminasi buatan pada tumbuh-tumbuhan diperbolehkan, kiranya inseminasi buatan pada hewan juga dibenarkan, karena keduanya sama-sama diciptakan oleh Tuhan untuk kesejahteraan umat manusia. ( QS. Qaaf:9-11 dan               An-Nahl:58 ).

Kedua; kaidah hukum fiqih Islam “al-ashlu fil asya’ al-ibahah hatta yadulla dalil ‘ala tahrimihi” (pada dasarnya segala sesuatu itu boleh, sampai ada dalil yang jelas melarangnya). Karena tidak dijumpai ayat dan hadits yang secara eksplisit melarang inseminasi buatan pada hewan, maka berarti hukumnya mubah.

Namun mengingat risalah Islam tidak hanya mengajak umat manusia untuk beriman, beribadah dan bermuamalah di masyarakat yang baik (berlaku ihsan) sesuai dengan tuntunan Islam, tetapi Islam juga mengajak manusia untuk berakhlak yang baik terhadap Tuhan, sesama manusia dan sesama makhluk termasuk hewan dan lingkungan hidup, maka patut dipersoalkan dan direnungkan, apakah melakukan inseminasi buatan pada hewan pejantan dan betina secara terus menerus dan permanen sepanjang hidupnya secara moral dapat dibenarkan? Sebab hewan juga makhluk hidup seperti manusia, mempunyai nafsu dan naluri untuk kawin guna memenuhi insting seksualnya, mencari kepuasan (sexual pleasure) dan melestarikan jenisnya di dunia.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa mengembangbiakkan semua jenis hewan yang halal (yang hidup di darat, air dan terbang bebas di udara) diperbolehkan Islam, baik untuk dimakan maupun untuk kesejahteraan manusia. Pengembangbiakan boleh dilakukan dengan inseminasi alami maupun dengan inseminasi buatan. Inseminasi buatan pada hewan tersebut hendaknya dilakukan dengan memperhatikan nilai moral Islami sebagaimana proses bayi tabung pada manusia tetap harus menjunjung tinggi etika dan kaedah-kaedah syariah.

 

B.     Landasan Dalil Pelarangan Insiminasi Buatan

Para ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama dan etika. Masalah inseminasi buatan ini sejak tahun 1980-an telah banyak dibicarakan di kalangan Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514 tanggal 1 September 1986.

Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor atau ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan ovum dari isteri sendiri. Vatikan secara resmi tahun 1987 telah mengecam keras pembuahan buatan, bayi tabung, ibu titipan dan seleksi jenis kelamin anak, karena dipandang tak bermoral dan bertentangan dengan harkat manusia.

Mantan Ketua IDI, dr. Kartono Muhammad juga pernah melemparkan masalah inseminasi buatan dan bayi tabung. Ia menghimbau masyarakat Indonesia dapat memahami dan menerima bayi tabung dengan syarat sel sperma dan ovumnya berasal dari suami-isteri sendiri.

Dengan demikian, mengenai hukum inseminasi buatan dan bayi tabung pada manusia harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas. Bila dilakukan dengan sperma atau ovum suami isteri sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami kemudian disuntikkan ke dalam vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun dengan cara pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya (vertilized ovum) ditanam di dalam rahim istri; maka hal ini dibolehkan, asal keadaan suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan. Hal ini sesuai dengan kaidah ‘al hajatu tanzilu manzilah al-dharurat’ (hajat atau kebutuhan yang sangat mendesak diperlakukan seperti keadaan darurat).

Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya. Menurut hemat penulis, dalil-dalil syar’i yang dapat dijadikan landasan menetapkan hukum haram inseminasi buatan dengan donor ialah:

Pertama; firman Allah SWT dalam surat al-Isra:70 dan At-Tin:4. Kedua ayat tersebuti menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati martabatnya sendiri serta menghormati martabat sesama manusia. Dalam hal ini inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya dapat merendahkan harkat manusia sejajar dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diinseminasi.

Kedua; hadits Nabi Saw yang mengatakan, “tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban).

Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat mengharamkan seseorang melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari istri orang lain. Tetapi mereka berbeda pendapat apakah sah atau tidak mengawini wanita hamil. Menurut Abu Hanifah boleh, asalkan tidak melakukan senggama sebelum kandungannya lahir. Sedangkan Zufar tidak membolehkan. Pada saat para imam mazhab masih hidup, masalah inseminasi buatan belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa memperoleh fatwa hukumnya dari mereka.

Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum, karena kata maa’ dalam bahasa Arab bisa berarti air hujan atau air secara umum, seperti dalam Thaha:53. Juga bisa berarti benda cair atau sperma seperti dalam An-Nur:45 dan Al-Thariq: 6.

Dalil lain untuk syarat kehalalan inseminasi buatan bagi manusia harus berasal dari ssperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah adalah kaidah hukum fiqih yang mengatakan “dar’ul mafsadah muqaddam ‘ala jalbil mashlahah” (menghindari mafsadah atau mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik maslahah/kebaikan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahah. Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu suami-isteri yang mandul, baik keduanya maupun salah satunya, untuk mendapatkan keturunan atau yang mengalami gangguan pembuahan normal. Namun mudharat dan mafsadahnya jauh lebih besar, antara lain berupa:

a.       Percampuran nasab, padahal Islam sangat menjada kesucian/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kemahraman dan kewarisan.

b.      Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.

c.       Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.

d.      Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tanggal.

e.       Anak hasil inseminasi lebih banyak unsure negatifnya daripada anak adopsi.

f.        Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada pasangan suami-isteri yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami. (QS. Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).

Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil prostitusi atau hubungan perzinaan. Dan kalau kita bandingkan dengan bunyi pasal 42 UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah” maka tampaknya memberi pengertian bahwa anak hasil inseminasi buatan dengan donor itu dapat dipandang sebagai anak yang sah. Namun, kalau kita perhatikan pasal dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini, terlihat bagaimana peranan agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu yang berkaitan dengan perkawinan.

Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan), pasal 8 (f) tentang larangan perkawinan antara dua orang karena agama melarangnya. Lagi pula negara kita tidak mengizinkan inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum, karena tidak sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.

 

 

 

 

BAB  V

PENUTUP

 

A.     Simpulan

Dari uraian diatas, penulis dapat menyimpulkan:

  1. Proses pemindahan sperma pada hewan adalah boleh.
  2. Proses inseminasi buatan dengan sperma dan ovum dari pasangan suami istri yang sah adalah boleh menurut agama, walaupun ada beberpa golongan yang tidak membolehkan.
  3. Proses inseminasi buatan dengan sperma dan ovum dari bukan pasangan suami istri yang sah adalah hukumnya terlarang agama.

 

 

 

B.     Saran-saran

1.      Para pemuka agama hendaknya konsisten dalam menetapkan keharaman inseminasi yang bukan dari pasangan yang sah.

2.      Pemerintah hendaknya melarang berdirinya bank nutfah karena selain bertentangan dengan Pancasila dan UUD ’45, juga bertentangan dengan norma agama dan moral, serta merendahkan martabat dan hartabat manusia yang tergambar di Al-Qur’an sebagai makhluk yang paling sempurna.

3.      Pemerintah hendaknya melarang keras praktek inseminasi buatan dengan sperma donor.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Madjid, Masail Fiqhiyyah, Pasuruan : PT. Garoeda Buana Indah, 2000, cet. Ke-5

Anttila, L., Penttila, TA, & Suikkari, AM., Successful pregnancy after in vitro fertilization and transmyometrial embryo transfer in a pacient with congenital atresia of cervix: case report. Hum reprod  (Article) 1999, Edisi 14

Azizy, Ahmad Qodri,  Islam Dan Permasalahan Sosial, Yogyakarta : LKIS, 2000,  cet. Ke-1

Barciulli, F, Ricci, G, Levi D`Ancona, R, et all., Our experience with direct intraperitoneal insemination (DIPI) as a treatment for infertile couples. Acta Eur Fertill. 1990.Edisi 21

Ben Rhouma, K, Ben Marzouk, A, Rihani, M, & Bakir, M., Direct intraperitoneal insemination and controlled ovarian hyperstimulation in subfertile couples. J Assist Repro Genet, (Article) 1994, Edisi 11

Beno, E, Bioteknologi Dan Bioetika, Jakarta : Kanisius, 1988, t.cet.

Hadiwardoyo, A. P., Moral Dan Masalahnya, Yogyakarta : Kanisius, 1990, t.cet.

Jalil Isa, Ma la Yajuz Fih al-Khilaf Baina al-Muslimin (terjemah), Pasuruan, GBI, 1991, cet., Ke-3

Mahjudin, Masail Fiqiyah Berbagai Kasus Yang Dihadapi “Hukum Islam” Masa Kini, Jakarta : Kalam Mulia, 2008, cet., Ke-7

Mangundiwirjo, Daldiri, Pendewasaan Masa Perkawinan Ditinjau Dari Kesehatan Jiwa, Surabaya : BKKBN, 1983, t.cet.

Misao, R, Itoh, M, Nakanishi, Y,& Tamaya, T., Direct intraperitoneal insemination in ovarian hyperstimulation cycles included with gonadoptropin-releasing hormone agonis, Clin Exp Obstet Gynecol, (Article)  1997 Edisi 24

Mujieb, Dkk., Kamus Istilah Fiqh, Jakarta : PT Pustaka Firdaus, 1994, cet., ke-4

Shannon, T. A., Pengantar Bioetika, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1995), cet. Ke-2

Sills, E. S., and Gianpiero, D. P., (Intrauterine pregnancy following low-dose gonadotropin ovulation induction and direct intraperitoneal insemination for severe cervical stenosis, BMC Pregnancy childbirth,  (Article) 2002, Edisi  2 ;.

Suwito, Ed. Chuzaimah dan Hafid, Problematika Hukum Islam Kontemporer, Jakarta : LSIK, 2002, cet. Ke-3

Tiemessen, CH, Bots, RS, peters, MF, & Evers, JL, Direct intraperitoneal insemination compared to intrauterine insemination in supperovulation cycles: a randomized cross-over study, Gynecol Obstet Invest, (Article), Edisi  44

Verkuyl, J., Etika Kristen Seksuil, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1984, t.cet.

Wanandi, S. I. SOBOTTA, Atlas Anatomi Manusia, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2000 , t.cet

Zuhdi, Masjfuk,  Masail Fiqhiyah, Jakarta : PT. Toko Gunung Agung, 1994, t.cet.

 

 

MUNASABAH ( Studi Ilmu Qur’an )

A.  Pendahuluan

            Al-Qur’an yang menjadi sumber ajaran Islam yang pertama ini,[1] memiliki keunikan yang sangat mengesankan dan mengagumkan.  Dikaji dari berbagai sudut pandang dan metodologi yang beragam, bukannya habis, akan tetapi justru bertambah mengagumkan.  Kitab al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah dalam jangka waktu 23  Tahun ini, [2]  berisi tentang berbagai petunjuk dan peraturan-peraturan yang disyariatkan karena beberapa sebab dan hikmah yang bermacam-macam.  Ayat-ayatnya diturunkan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dibutuhkan.[3]  Susunan ayat-ayat dan suratnya sangat tertib, sehingga tampak adanya persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain dan antara surat yang satu dengan surat yang lain.[4]

Oleh karena, itu muncul sebuah cabang ilmu yang khusus membahas tentang persesuaian-persesuaian itu, atau yang menurut ulama tafsir digolongkan salah satu ilmu al-Qur’an yang disebut sebagai ilmu munasabah.  Pengetahuan tentang munasabah atau karelasi antara ayat dengan ayat surat dengan surat mempunyai arti penting dalam memahami makna al-Qur’an serta membantu dalam proses menta’wilkan dengan baik dan cermat.  Oleh sebab itu sebagian ulama mencurahkan perhatian untuk menulis kitab mengenai masalah itu.[5]

Ilmu  munasabah dapat juga berperan menggantikan ilmu asbab an-Nuzul, apabila seseorang tidak mengetahui sebab turunnya suatu ayat, tetapi seseorang bisa mengetahui dengan adanya korelasi ayat satu dengan ayat yang lain.[6]

Untuk mengetahui dengan jelas segi persesuaian  di antara ayat-ayat, pembaca al- Qur’an hanya  diharuskan  bersandar pada rasa etikanya, dan kadang harus bersandar pula pada fitrah logikanya.[7]

B.  Pengertian Munasabah

Munasabah dalam pengertian bahasa adalah, sesuai, mendekati dan menyererupai.[8]  Dalam pengertian istilah ada beberapa pendapat, menurut Manna al-Qathan, munasabah adalah segi-segi hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dalam satu ayat, antara satu ayat yang lain, atau antar surat dengan surat yang lain.[9]  H Hasbi membatasi pengertian munasah kepada ayat-ayat atau antar ayat saja.[10]  Az-Zarkasi dan as-Suyuti merumuskan yang dimaksud dengan munasah ialah hubungan yang mencakup antar ayat ataupun antar surat.[11]

Menurut penulis, definisi yang disebutkan tersebut sesuai dengan aspek kajian yang terdapat pada munasabah, yaitu pembahasan yang mencakup pada ayat satu dengan ayat lain, maupun surat satu dengan surat yang lain. Akan tetapi, penulis kurang setuju dengan pendapat yang yang dilontarkan oleh Hasbi as-Shiddiqy dalam mendefinisikan munasabah yang hanya dibatasi antar surat, padahal jika munasabah dibatasi hanya pada ayat ke ayat,[12] akan membentuk satu pemahaman bahwa antara surat satu dengan surat yang lain itu tidak ada hubungannya, hal ini akan  menjadikan al-Qur’an itu kurang sempurna, karena di antara surat satu dengan yang lain tidak saling berhubungan dan berkaitan.

C.. Sejarah Timbul dan Perkembangan Pengetahuan Munasabah

Menurut as-Syarbani, orang pertama yang menampakkan munasabah dalam menafsirkan al-Qur’an ialah Abu bakar an-Naisaburi (wafat tahun 324 H).[13]  namun kitab an-Naisaburi yang dimaksud sukar dijumpai sekarang, sebagaimana sebagaimana yang telahdinyatakan oleh adz-Dzahabi.[14]

Besarnya perhatian Naisaburi terhadap munasabah nampak dari ungkapan as-Suyuti sebagai berikut: “Setiap kali an-Naisaburi duduk di atas kursi, apabila al-Qur’an dibacakan kepadanya, beliau berkata, “mengapa ayat ini diletakkan disamping ayat ini dan apa rahasia diletakkan surat ini di samping surat ini?” Beliau mengkritik para ulama Bagdad lantaran mereka tidak mengetahui.[15]

Tindakan Naisaburi merupakan kejutan dan langkah baru dalam dunia tafsir waktu itu.  Beliau mempunya kemampuan menyingkap persesuaian, baik antar ayat ataupun antar surat, terlepas dari segi tepat atau tidaknya, segi pro dan kontra terhadap apa yang dicetuskan beliau.  Satu hal yang jelas, beliau dipandang sebagai penggagas ilmu munasah.[16]

Dalam perkembangannya, munasabah meningkat menjadi salah satu cabang dari ilmu-ilmu al-Qur’an.  Ulama-ulama yang datang kemudian menyusun pembahasan munasah secara khusus.  Di antara kitab yang khusus membicarakan munasabah ialah al-Burhan fi Munasah tartib al-Qur’an karya ahmad Ibn Ibrahim al-Andalusi (wafat 807 H)   Menurut pengarang Hasbi, penulis membahas dengan baik masalah munasabah ialah Burhanudin al-Biqa’i dalam kitabnya Nazhmud Durar fi Tanasubil Ayati Wa Suwar.[17]

As-Syuyuti membahas tema munasabah dalam al-Itqan dengan tapik Fi Munasabatil ayati sebelum membahas tentang ayat-ayat mutasyabihat.  Az-Zarkasyi membahas soal munasabah dalam al-Burhan berjudul ma’rifatul Munasabat bainal ayati sesudah membahas sababun nuzul.  Subhi Shalih dan Manna al-Qathan memasukkan pembahasan munasah dalam bagian ilmu asbabun Nuzul, tidak dalam suatau pasal tersendiri.

D.  Macam-Macam Munasabah

Munasabah bila ditinjau dari berbagai segi, itu ada berberapa macam, di antaranya:

a.  Macam-macam sifat munasabah 

Ditinjau dari segi sifat, munasabah itu ada dua macam, yaitu :

Pertama, Dhaahirul irtibath (persesuaian yang nyata atau persesuaian yang tampak jelas), yaitu persesuaian atau persambungan pada ayat al-Qur’an yang amat kuat dan erat sekali.  Sehingga yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, apabila dipisahkan dari kalimat yang lain.  Maka deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi, kadang-kadang ayat satu itu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelasan, pengecualian atau pembatasan dari ayat yang lain, sehingg semua ayat-ayat tersebut tampak sebagai satu kesatuan yang sama.  Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surat al-Isra’:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Artinya: “Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil Haram ke Masjidil Aqsa.”

Ayat tersebut menerangkan isra’ Nabi Muhammad saw.  Selanjutnya, ayat 2 surat al-Isra’ yang berbunyi:

وَءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

Artinya: “Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab Taurat itu menjadi petunjuk bagi Bani Israil.”

Ayat tersebut menjelaskan diturunkannya Kitab Taurat kepada Nabi Musa a.s.

Persesuaiannya antara kedua ayat tersebut ialah tampak jelas, yaitu kedua-duanya diutus oleh Allah, dan keduanya diisra’kan.  Nabi Muhammad dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Nabi Musa dari Mesir ke Madyan.

Kedua, Khafiyu al-Irtibath (persesuaian yang tidak jelas) atau samarnya persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat yang lain, sehinga tidak nampak adanya hubungan antara keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat itu berdiri sendiri, baik ayat yang satu diathafkan kepada ayat yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lainnya. Contohnya, seperti hubungan antara ayaat 189 surah Al-Baqarah dengan ayat 190 surah Al-Baqarah.  Ayat 189 surah Al-Baqarah tersebut berbunyi:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Artinya:  Mereka bertanya kepadamu tentang bulan tsabit. Katakanlah, bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji “

Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit atau tanggal-tanggal untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji.

Sedangkan ayat 190 surah al-Baqarah berbunyi:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا

Artinya: “ Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampui batas.”

Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam.  Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya atau hubungan yang satu dengan yang lainnya samar.  Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut, yaitu ayat 189 surah Al-Baqarah mengenai soal waktu untuk haji, sedangkan ayat 190 surah Al-Baqarah menerangkan:  Sebenarnya, waktu haji itu umat Islam dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan  musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji.

b.  Macam-macam Materi Munasabah

Ditinjau dari segi materinya, munasabah terbagi menjadi dua macam,[18] di antaranya:

1. Munasabah Antar Ayat

Munasabah antar ayat ini,[19] berbentuk persambungan ayat satu dengan yang lainnya.  Munasabah ini berbentuk persambungan-persambungan, di antaranya sebagai berikut: Pertama, diathafkankannya ayat satu dengan ayat lain, seperti surat Ali ‘Imran ayat 103 dengan ayat 102, contoh:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Artinya: “dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai berai.” (QS. 3:103)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya bertaqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragana Islam.” (QS. 3:102)

Kedua ayat ini menyuruh perpegang teguh kepada Allah, munasabah dengan athaf ini ialah untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (an-Nadziiraini).

Kedua, tidak diathafkan anatara ayat satu dengan lainnya, seperti surat Ali Imran ayat 11 dengan ayat 10, contoh:

 كَدَأْبِ ءَالِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا

Artinya: “Keadaan mereka adalah sebagai keadaan kaum fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya, mereka mendustakan ayat-ayat Kami.” (QS. 3:11)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mreka sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka.  Dan mereka itulah bahan bakar api neraka.” (QS. 3:10)

Dalam kedua ayat ini tampak adanya hubungan yang kuat, ayat 11 itu dianggap sebagai kelanjutan dari ayat ke 10.

Ketiga, digabungkannya dua hal yang sama, seperti persambungan antara ayat 5 dan 4 dari  surat al-Anfal:

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ

Artinya: “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagaian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.” (QS. 8:5)

أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: “Itulah orang-orang yang beriman dengan sbenar-benarnya.  Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. 8:4)

Ayat-ayat di atas sama-sama menerangkan tentang kebenaran.  Ayat 5 menerangkan kebenaran bahwa Nabi diperintah hijrah dan ayat 4 menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum mukminin.

Keempat, dikumpulkan dua hal yang kontradiksi (al-Mutasashddatu). Seperti dikumpulkan ayat 95 dan 94 surat al-At’raf:

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ ءَابَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ

Artinya: “Kemudian Kami ganti kesusuhan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kesenangan.” (QS. 7:95)

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ

Artinya: “Kami tidaklah mengutus seseorang Nabi pun kepada suatau negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu) ,elainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.” (QS. 7:94)

Ayat 94 tersebut menerangkan ditimpakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan.

Kelima, dipindahkannya satu pembicaraan, sebagaimana ayat 55 dan 54 dari surat Shaad:

هَذَا وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ

Artinya: “beginilah (keadaan mereka), sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka, benar-benar (disediakan) tempat kembali yang beruk.” (QS. 38:55)

Dari membicarakan nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk sekali, dialihkan membicarakan rezeki dari para ahli surga, sebagaimana ayat di bawah ini :

إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ

Artinya: “Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dri Kami tiada habis-habisnya.” (QS. 38:54)

2.  Munasabah Antar Surat

Munasabah antar surat ini, terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya:

Pertama, munasabah antar surat dalam soal materinya, yaitu materi surat yang satu sama dengan materi surat yang lain.[20]  Contohnya, seperti surat al-Baqarah dan surat al-Fatehah, keduanya sama-sama menerangkan tiga hal kandungan al-Qur’an, di antaranya masalah aqidah, ibadah, muamalah, kisah, dan janji serta ancaman. Di dalam surat al-Fatihah dijelaskan secara rinci, sedangkan di dalam surat al-Baqarah diterangkan secara panjang lebar.

Kedua, persesuaian antara permulaan surat dengan penutupan surat sebelumnya.[21] Contohnya, seperti awalan surat al-An’am ayat 1 yang berbunyi:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.”    (QS. 6:1)

Awalan surat al-An’am tersebut sesuai dengan akhiran surat al-Maidah yang berbunyi:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. 5:120)

Ketiga, persesuaian antara pembukaan dan akhiran suatu surat.[22] Contohnya, seperti persesuaian antara awal surat al-Baqarah:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Alif, Laam, Miim.  Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. 2:1-2)

Awal surat al-Baqarah tersebut sesuai dengan akhirannya yang memerintahkan supaya berdo’ayat agar tidak disiksa oleh Allah, bila lupa atau bersalah:

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Artinya: “Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum-kaum yang kafir.” (QS. 2:286)

Menurut as-Suyuthi, Munasabah terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: Pertama, tandhir, yakni hubungan yang mencerminkan perbandingan.  Misalnya, surat al-Anfal ayat 5 dengan ayat 4,

كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ

Artinya: “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu.”(QS. 8:5),

mengiringi ayat sebelumnya,

أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

Artinya: “Mereka itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS. 8:4).

Kedua, mudhaddah, yakni hubungan yang mencerminkan pertentangan.  Misalnya,”…

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Mereka itulah mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS, 2:5). Dengan ayat berikutnya,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringgatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”(QS, 2:6)

Ketiga, istithrad, yakni hubungan yang mencerminkan kaitan suatu persoalan denga persoalan lain.     Misalnya dalam ayat,

يَابَنِي ءَادَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

Artinya:  “Hai anak Adam (umat manusia), sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan, dan pakaian taqwa itulah yang lebih baik.” (QS. 7:26)

Menurut penulis, persesuaian pada al-Qur’an baik dari ayat ke ayat, maupun surat ke surat tidak semuanya menyatu atau menyerupai kandungannya, sebab al-Qur’an diturunkan memiliki tema-tema tersendiri, ataupun bentuk sabab an-Nuzul serta situasi dan kondisi yang berbeda, oleh karena itu tidak mungkin semuanya memiliki korelasi.  Andaikata dari ayat satu dengan ayat lainnya dipaksa untuk diserupakan walaupun tidak cocok maknanya, apakah itu justru tidak akan merusak kandungan al-Qur’an itu sendiri.

Pengetahuan mengenai karelasi dan hubungan antara ayat-ayat  itu bukanlah tauqifi (tak dapat diganggu gugat karena ditetapkan oleh Rasul), akan tetapi hasil ijtihad seorang mufasir.  Hal ini berarti, seorang mufasir tidak harus mencari  kesesuaian ayat-ayat al-Qur’an dengan memaksakan diri.

‘Izzudin ‘Abd Salam menuturkan, bahwa ilmu munasabah itu baik sekali, kketika menghubungkan kalimat satu dengan kalimat yang lain, akan tetapi harus betul-betul tepat pada hal-hal yang berkaitan, baik di awal maupun di akhirnya.[23]

E.  Urgensi dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Munasabah

  1. Mengetahui persambungan antara ayat dengan ayat, surat dengan surat, sehingga memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap al-Qur’an dan akan memperkuat keyakiana terhadap kewahyuan dan kemu’jizatannya.
  2. Dapat mengetahui mutu dan kualitas bahasa al-Qur’an yang jauh dari pertentangan-pertentangan, baik antara ayat satu  dengan ayat lainnya, maupun surat satu dengan surat lainnya.
  3. Sangat membantu di dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, karena dengan mengetahui hubungan antar ayat, akan mempermudah dalam memahami isi kandungannya dan pengistimbatan hukum-hukum di dalamnya.[24]
DAFTAR PUSTAKA

 

Adh-Dhahabi,  Muhammad Husain,  at-Tafsir wa al-Mufassirun,  Cairo:  Maktabah Wahbah,  2000,  cet. ke-7

Al-Husni, Muhammad bin ‘Ali al-Malaki,  Zubdah al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an,  Mesir: Dar asy-Syuruq,  cet. ke-2

Al-Qathan, Manna,  Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an,  t.tp.,  tp.,  t.th.,  cet. ke-3

Ash-Shalih, Shubhi,  Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an,  Bairut :  Dar al-‘Ilmu lil Malayin,  1988,  cet. ke-17

Ash-Shiddieqy,  Muhammad Hasbi,  Sejarah dan pengantar Ilmu al-Qur’an,  Jakarta:  Bulan Bintang,  1992,  cet. ke-14

As-Suyuthi, Jalalluddin,  al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an,  Bairut:  Dar al-Fikr,  t.th.,  t.cet.

As-Suyuthi, Jalalluddin,  at-Tahbir fi ‘Ulum ayat-Tafsir,  Cairo:  Dar al-Manar,  1986,  t.cet.

Az-Zarqani, Muhammad ‘Abd al-‘Adhim,  Manahi al-‘Urfan fi ‘Ulum al-Qur’an,  Bairut : Dar al-Fikr,  cet. ke-3

Az-Zarkasyi,  al-Burhan fi Ulum al-Qur’an,  Cairo:  Dar al-Ihya al-Kutub,  1957,  t.cet.

Chirzin,  Muhammad,  al-Qur’an dan ‘Ulumul Qur’an,  Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa,  1998,  cet. ke-1

Djalal,  Abdul,  Ulumul Qur’an,  Surabaya:  Dunia Ilmu,  2000,  cet. ke-2

Khalaf,  ‘Abd al-Wahab,  ‘Ilmu Ushul al-Fiqh,  Cairo:  Dar al-Kuwaitiyyah,  1968,  cet. ke-8

Zuhdi, Masjfuk,  Pengantar ‘Ulumul Qur’an,  Surabaya:  Bina Ilmu,  1993,  cet. ke-4

 


[1]‘Abd al-Wahab Khalaf,  ‘Ilmu Ushul Fikh,  (Cairor: al-Dar al-Kuwaitiyyah,  1968),cet. ke-8,h.21

[2] Muhammad ‘Abd al’Adhim az-Zarqani,  Manahil al’Urfan,  (Bairut:  Dar al-Fikr,  1988),  t.cet.,  Jilid 1, h. 51

[3] Abdul Djalal,  Ulummul Qur’an,  (Surabata:  Dunia Ilmu,  2000),  cet. ke-2,  h. 153

[4] Manna Khalil al-Qathan,  Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an,  (t.tp., tp., t.th.),  h. 97

[5] Ibid.

[6] Masfjfuk Zuhdi,  Pengantar Ulumul Qur’an,  (Surabaya:  Bina Ilmu,  1993),  cet.  ke-4,  h. 167

[7] Subhi Shalih,  Mabahis fi Ulum l-Qur’an,  (Bairut:  Dar ‘Ilm Lilmalayyin,  1977), cet. ke-10,  h. 151

[8] Jalaluddin as-Suyuti,  al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Bairut:  Dar al-Fikr,  t.th.),  t.cet.,  h. 108;  Manna al-Qathan, op.cit.,  h. 98

[9] Manna’ Khalil al-Qathan,  Ibid.

[10] Hasbi ash-Shiddieqy,  Sejarah dan Pengantar Ilmu Tafsir,  (Jakarta:  Bulan Bintang, 1992),  cet. Ke-14,   h. 106

[11] Az-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum al-Qur’an,  (Cairo:  Dar al-Ihya al-Kutub,  1957),  t.cet.,  h. 35;  Jalaluddin as-Suyuti,  loc. cit.

[12] Pembatasan pada definisi yang dilontarkan oleh Hasbi tersebut, bertolak belakang dengan karyanya, yaitu tafsir an-Nur.  Di dalam tafsir an-Nur beliau mempergunakan munasabah tidak hanya pada antar ayat saja, akan tetapi juga pada antar surat.

[13] Ibid

[14] Muhammad Husain adh-Dhahabi,  Tafsir wa al-Mufassirun,  Cairo:  Maktabah Wahbah,  2000,  cet. ke-7

[15] As-Suyuti,  loc. cit.

[16] Muhammad Chirzin,  al-Qur’an dan ‘Ulumul Qur’an, Yogyakarta:  Dana Bhakti Prima Yasa,  1998,  cet. ke-1

[17] Hasbi ash-Shiddieqy,  loc. cit.

[18] Abdul Djalal,  op. cit.,  h.158

[19] Munasabah antar ayat ini, sebebagaimana as-Suyuthi menyebutkan sebagai berikut :  Pertama Mura’atan nadhir  (hubungan yang mencerminkan keterkaitan) contoh, surat ar-Rahman ayat 5:

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ ; Kedua, Tasyabuhul athraf (hubungan antara awal dan akhir ayat, contoh, surat            al-An’am ayat 103: لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ;  Ketiga, musyakalah (persamaan) contoh: surat al-Baqarah ayat 14 dan 15: إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ , اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ ,  وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ ;  Lihat, as-Suyuthi, at-Tahbir fi ‘Ulum at-Tafsir,  (Cairo:  Dar al-Manar,  1982),  t.cet.,  h. 289-290

[20] Manna al-Qathan,  op. cit.,  h. 99

[21] Ibid.

[22] Ibid.

[23] As-Suyuthi,  loc. cit.

[24] Abdul Dlalal,  op. cit.,  h. 165